Ulama muslim dari Kanada, Syeikh Nadzhim Baats, memuji kehidupan umat Islam di Indonesia karena mengutamakan kerukunran, kasih sayang terhadap sesama.

“Tidak berwajah garang seperti yang digambarkan media-media,” ujar Syeikh Nadzhim Baats ketika menghadiri Indonesia Bersalawat di lapangan Masjid At-Taqwa, Kompleks Pomad, Jakarta Selatan.

Kegiatan salawat dan dzikir itu dihadiri puluhan ribu jamaah Majelis Talim Nurul Mustofa dan empat ulama muslim dari Sudan, Afrika Selatan, Singapura, dan Kanada.

Syeikh Nadzhim menceritakan, kali ini adalah kesempatan pertamanya datang ke Indonesia. Hari Sabtu 8 Agustus, sebelum tiba di Indonesia, Syeikh Nadzhim mengamati pemberitaan di media-media seperti BBC, CNN, Al-Jazeera, dan Australian Networks. Kebetulan, katanya, saat itu sedang marak diberitakan tentang penyergapan seorang yang diduga teroris di Temanggung.

“Media-media kemudian membuat reportase yang kira-kira menggambarkan betapa muslim Indonesia itu sangat dekat dengan kekerasan, tapi nyatanya setelah saya datang ke sini itu tidak benar,” kata Syeikh Nadzhim.

Justru sebaliknya, lanjut Syeikh Nadzhim, umat Islam Indonesia yang ditemuinya menunjukkan sikap kelembutan dan penuh kasih sayang. “Jadi bagaimana mungkin muslim Indonesia disebut teroris”

Dikatakan, perilaku muslim Indonesia yang ramah membuat Syeikh Nadzhim yakin siapa pun yang berada di negeri kaya rempah-rempah ini akan merasa nyaman. Jika pun ada kegiatan terorisme seperti yang dikabarkan media, lanjut Syeikh Nadzhim, bisa dipastikan karakter pelakunya bukanlah karakter muslim yang berkembang di Indonesia.

“Terorisme itu bukan asli muslim Indonesia. Muslim Indonesia yang sebenarnya adalah yang berada di hadapan saya sekarang, wajahnya tampan-tampan dan cantik-cantik serta penuh keramahan,” kata Syekih Nazdhim.

Dia pun berjanji, sepulangnya ke Kanada akan menyampaikan kabar dan pengalaman yang dia peroleh selama di Indonesia kepada masyarakat negaranya. Menurut Syeikh Nadzhim, masih banyak kesalahpahaman tentang muslim Indonesia akibat penerimaan informasi yang tidak benar.

“Kesaksian saya ini menjadi penegas, muslim Indonesia bukanlah teroris,” kata Syeikh Nadzhim.
Sumber : VIVAnews

Hampir satu diantara empat penduduk bumi beragama Islam atau muslim. Ini berdasarkan studi terbaru yang bertujuan memetakan populasi umat muslim dunia.

India, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia, selain Indonesia dan Pakistan. Penduduk muslim India bahkan dua kali lipat dibandingkan yang ada di Mesir.

Kemudian, penduduk Muslim di China lebih banyak dari Syria. Muslim di Jerman bahkan lebih banyak dari Lebanon. Sedangkan Rusia punya penduduk muslim lebih banyak dari gabungan muslim di Yordania dan Libya.

Hampir dua pertiga penduduk muslim dunia berada di Asia, terpusat di Turki sampai Indonesia.

Sementara, Timur Tengah dan Afrika Utara, keduanya menjadi tempat tinggal seperlima muslim dunia.

Berdasarkan laporan terbaru yang dikeluarkan Pew Forum on Religion & Public Life, ada sekitar 1,57 miliar penduduk muslim di dunia atau 23 persen dari keseluruhan penduduk dunia yang berjumlah 6,8 miliar.

Penelitian dilakukan dari data terkini demografi dari 232 negara dan teritori.

Agama Kristen yang tercatat 2,25 miliar, berdasarkan proyeksi World Religion Database pada 2005.
Menurut peneliti senior Pew Forum, Brian Grim, perkembangan jumlah muslim dunia sedikit mengejutkan.

“Secara keseluruhan, jumlah ini lebih tinggi dari yang saya perkirakan,” kata dia, seperti dimuat CNN.

Sebelumnya, estimasi jumlah penduduk muslim dunia dalam kisaran 1 sampai 1,8 miliar.

“Banyak negara, yang kami kira tak ada penduduk muslimnya, ternyata mereka memiliki banyak penduduk muslim,” kata direktur riset Pew Forum wilayah India, Rusia, dan China, Alan Cooperman.

Sementara, penulis buku terkenal Amerika  Serikat, Reza Aslan mengatakan laporan tersebut akan berimplikasi pada kebijakan Amerika Serikat.

Timur Tengah, kata dia, tak lagi bisa dijadikan representasi dunia muslim. “Isu menggapai dunia muslim, tak boleh hanya berfokus di Timur Tengah,” kata dia.

Jika tujuannya menciptakan kesepahaman antara dunia muslim dan AS, fokus Amerika seharusnya di Asia Selatan maupun Asia Tenggara,” tambah dia.

Sumber • VIVAnews

<!–

–>

Ketika pria asal Nigeria, Umar Farouk Abdulmutallab, berada di pengadilan distrik Michigan, Amerika Serikat, pekan lalu, ia tampak tenang dan tak menyesali perbuatannya. Bahkan, ia mengungkapkan masih ada 20 kandidat pelaku serangan bunuh diri yang sedang antre untuk melakukan aksinya kapan saja.

Apa yang diungkapkan Abdulmutallab menunjukkan bahwa Al Qaeda tidak hanya masih eksis, tetapi juga semakin berkembang dengan sumber daya manusia yang baru dan metode penyerangan yang baru pula.

Masa depan Al Qaeda pun tampaknya tidak tergantung pada figur satu atau dua tokoh. Telah banyak tokoh-tokoh Al Qaeda papan atas yang tewas, seperti pendiri Al Qaeda, Sheikh Abdullah Azzam (tewas misterius di Peshawar tahun 1989); Ali Rasyidi Al Panshiri (tewas di Danau Victoria, Afrika, 1996); dan Abu Musab As Zarqawi (tewas di Irak tahun 2006).

Dan ada pula tokoh Al Qaeda papan atas yang ditahan AS, seperti Abu Musab As Suri.

Meski demikian, hal itu gagal mengikis benih kekerasan dan radikalisme yang menghinggapi alam pikiran banyak pemuda Arab dan Muslim.

Tidak ada jaminan pula jika Osama bin Laden atau Ayman Thawahiri tewas, maka jaringan Al Qaeda akan berakhir.

Mengapa ideologi Al Qaeda bertahan?

Proyek Jihadi

Ada dua hal yang harus menjadi catatan. Pertama, ideologi Al Qaeda adalah sebuah proyek Jihadi. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, proyek Jihadi cukup berkembang. Hal itu menunjukkan proyek tersebut bukan bersifat temporal dan juga kemunculannya bukan karena sekadar aksi balas dendam. Proyek itu sudah ibarat putaran yang setiap saat mengisi kekosongan eksistensi atau identitas siapa pun akibat disia-siakan oleh rezim kekuasaan tempat mereka hidup, atau punya perasaan inferior, atau merasa terzalimi oleh masyarakat atau keluarganya.

Kedua, salah satu tujuan strategis Al Qaeda adalah terus berlanjutnya konflik antara Barat dan dunia Islam sehingga mereka bisa memiliki payung legitimasi etika dan politik dalam aktivitas terorisnya. Dalam hal ini, Al Qaeda berhasil dengan terlibatnya AS dan Barat dalam perang di Afganistan, Irak, dan Pakistan.

Kemudian sebaiknya mengevaluasi kembali wacana variabel yang selama ini dipercaya sebagai faktor-faktor bagi bersemainya radikalisme. Evaluasi itu sebagai keniscayaan agar perang melawan jaringan Al Qaeda tidak berlanjut satu dekade lagi dengan hasil tidak ada pihak yang memenangi pertarungan secara mutlak seperti yang terjadi saat ini.

Variabel pertama adalah bersemainya radikalisme sering dikaitkan dengan kemiskinan dan kebodohan. Wacana ini sangat dipercaya di dunia Barat dalam memandang fenomena kekerasan dan radikalisme selama ini.

Akan tetapi, realita di lapangan, mereka yang tertarik bergabung dengan jaringan Al Qaeda sebagian besar justru berasal dari keluarga berada, kelas atas atau menengah, dan mengenyam pendidikan modern.

Contohnya adalah pria asal Nigeria, Umar Farouk Abdulmutallab, yang berupaya meledakkan pesawat Northwest Airlines yang gagal saat mendarat di Detroit dari Amsterdam pada 25 Desember 2009. Abdulmutallab adalah putra seorang bankir kaya di Nigeria. Ia juga dikenal cerdas, mengenyam pendidikan di London sebelum belajar bahasa Arab di Yaman.

Agen ganda Al Qaeda asal Jordania, Humam Khalil Abu-Mulal al-Balawi, berprofesi sebagai dokter dan terkenal pintar sehingga mendapat beasiswa dari Pemerintah Jordania saat belajar kedokteran di Turki.

Al Balawi melakukan aksi serangan bom bunuh diri yang menewaskan tujuh agen CIA di pangkalan AS di Provinsi Khost, Afganistan Timur, 30 Desember 2009.

Bukan soal miskin

Secara strata sosial ekonomi, Abdulmutallab dan Al Balawi sama seperti pendahulunya, Muhammad Atta dan Ziad al Jarrah (pelaku serangan teroris 11 September 2001 di AS) dan juga sebelumnya, pucuk pimpinan Osama bin Laden dan Ayman Thawahiri. Bahkan, pendiri Tanzim Al Qaeda, Sheikh Abdullah Azzam, yang berasal dari Palestina adalah seorang profesor universitas Islam internasional di Islamabad, Pakistan.

Karena itu, masalah utama bukan karena soal kaya dan miskin atau pintar dan bodoh, melainkan lebih pada doktrin dari mentor atau keyakinan sehingga mereka rela melakukan serangan bunuh diri,

Variabel kedua, teks-teks ajaran agama dan kurikulum sekolah agama di dunia Islam kerap dituduh sebagai faktor pendorong perilaku radikalisme.

Wacana ini dipercaya cukup kuat di dunia Barat dan bahkan juga di dunia Islam. Karena itu, para ulama terkemuka Islam sering turun tangan dengan memberi penafsiran yang moderat atas teks-teks ajaran agama agar dapat mengeringkan sumber kekerasan dan radikalisme.

Namun yang mengejutkan, sebagian besar loyalis Al Qaeda papan atas berlatar belakang pendidikan sipil modern, bukan salaf (agama). Mereka tidak belajar di lembaga pendidikan Al Azhar di Mesir atau sekolah agama di Arab Saudi dan Pakistan, tetapi di lembaga pendidikan Barat seperti Abdulmutallab, Al Balawi, dan Muhammad Atta.

Karena itu, persoalan bukan pada teks ajaran agama atau kurikulum sekolah agama, melainkan kondisi sosial politik yang buntu di sebagian besar dunia Arab dan Islam.

Kebuntuan kondisi sosial politik itu membuka peluang lahirnya penafsiran radikal terhadap teks-teks ajaran agama dalam upaya mencari legitimasi untuk mengubah keadaan. Hal itu bisa dilihat pada karya-karya Sayyid Qutub di Mesir dan Abul Alaa Maududi di Pakistan. Karya-karya Sayyid Qutub khususnya sering dijadikan referensi kelompok-kelompok radikal.

Tolak kehidupan modern

Variabel ketiga sering dikatakan bersemainya perilaku radikalisme bagi para pemuda Arab dan Muslim lantaran mereka menolak atau tidak mampu berintegrasi dengan kehidupan modern yang didominasi peradaban Barat.

Namun, kasus Abdulmutallab, Al Balawi, dan Muhammad Atta adalah mereka produk pendidikan modern dan beberapa waktu hidup di negara Barat atau di lingkungan yang berorientasi ke Barat, seperti Al Balawi yang beberapa tahun hidup di Turki.

Persoalannya bukan hubungan Islam dan modernitas, tetapi lebih pada perasaan inferior, krisis identitas, dan rasa kesia-siaan sehingga mereka bergabung dengan Al Qaeda.

Variabel keempat adalah masalah kerancuan semantik. Pejabat dan media Barat sering mengidentikkan Tanzim Al Qaeda dengan paham konservatif atau salaf. Padahal, tidak semua penganut paham salaf dengan sendirinya anggota Al Qaeda.

Jika AS dan Barat memvonis semua penganut paham salaf adalah Tanzim Al Qaeda, maka mereka tidak akan memenangi

peperangan karena harus berhadapan dengan jutaan manusia di Afganistan, Pakistan, Yaman, Somalia, dan negara lain.

Padahal, anggota jaringan Al Qaeda jumlahnya ratusan di setiap negara. Jika ada penganut salaf klasik bergabung dengan jaringan Al Qaeda, maka ia bisa disebut Salafi Jihadi dan sudah meninggalkan paham salaf klasiknya.

Karena itu, AS dan Barat harus membedakan antara pengikut jaringan Al Qaeda dan lainnya sehingga dalam memburu mereka tidak salah sasaran, agar tidak menambah musuh dan semakin menuai kebencian terhadap AS.

Analis Timur Tengah asal Inggris, Patrick Seale, mengatakan, AS dan Barat hendaknya tidak hanya menggunakan pendekatan militer atau menggelontorkan bantuan ke negara tertentu atau membuka latihan antiteroris di Pakistan dan Yaman dalam menghadapi jaringan Al Qaeda, tetapi juga memberi prioritas pada pendekatan politik dan ekonomi.

Menurut Seale, tingginya angka pengangguran di dunia Arab dan Islam, adanya rezim korup dan diktator, serta tiadanya keadilan mengantarkan banyak pemuda Arab dan Islam mengangkat senjata melawan AS dan sekutunya.

Di Yaman misalnya, problema tidak hanya ada pada jaringan Al Qaeda, tetapi juga pada pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh yang harus lebih membuka keran demokrasi, menegakkan keadilan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.


Ketika saya lagi Browsing di Google saya mendapatkan satu Blog yang jelas sangat menghina Agama ISlam dan Nabi Muhammad, di situ digambarkan Nabi Muhammad sedang bersanggama dengan Hewan Kambing dan di belakang Ada Satu Mahluk bertanduk, di bawahnya Kambing itu di beri label Muslim, Muhammad dan Allah http://beritamuslim.wordpress.com/, sangat tidaklah patut dan menjijikkan

Saya himbau Kepada teman-teman yang beragama Islam, mari kita kasih memberikan teguran kepada pemilik blog itu dan meminta pengelola wordpress menutup blog ini.  Sebab sudah keterlaluan sekali menjelek-jelekkan agama Islam di internet. Sebagai warga negara yang menjunjung toleransi umat beragama, saya yakin bagi yang Non Muslim pastinya kalau membaca dengan teliti Blog ini akan tidak setuju dan simpatik dengan adanya blog tersebut.

Mari kita bersatu untuk segera mendelete blog http://beritamuslim.wordpress.com/ yang menghebohkan itu.

Dalam isi blog itu tertulis pengantarnya seperti ini:

Blog ini adalah jembatan menuju kesadaran para Muslim/Muslimah untuk sadar akan ketidak benaran ajaran Islam, dan segera murtad. Muhammad adalah seorang penipu, penjahat, maniak seks, pedophil, pembunuh, perusak. Sosok Muhammad sangat-sangat tidak pantas ditiru.

Blog ini mengajak anda-anda sekalian untuk merenung sejenak, dan membuka diri terhadap agama yang anda anut yaitu Islam.

Caranya:

Pertama buka alamat http://en.wordpress.com/report-spam/

Lalu isi data-data yang diperlukan:

Your Email : email Anda

Blog URL : isi dengan :
http://beritamuslim.wordpress.com/
yaitu blog yang mau di berantas

Why : isi dengan ” BLOG SPAMMING and that blog is insulting religion islam. “

semakin banyak yang melapor semakin cepat blognya ditutup.
semoga kita terhindar dari hal2 yang bisa melemahkan iman kita dan semoga kita selalu ada dalam ridha dan lindungan-Nya…
Amin

Syukran. Jazakallah khoiran katsira. Allahu Akbar.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Ada Satu buku yang cukup kontroversial yang ditulis oleh Max I. Dimont, seorang Yahudi Amerika kelahiran Finlandia, buku dengan judul asli “The Jews, God, and History” yang pertama kali diterbitkan tahun 1970-an. Buku tentang Sejarah Yahudi secara lengkap tapi dari sudut pandang yang berbeda, jika selama ini Di Indonesia kita banyak membaca buku tentang Yahudi dari sudut pandang Muslim, maka baru kali ini kita lihat dari sudut pandang Yahudi sendiri. Satu hal lagi tambah menarik karena sebuah catatan kecil dari penerbitnya, Masaseni, Okt 2002, di lembar awal buku ini: UNTUK KALANGAN TERBATAS, PARA PEMERHATI MAKNA DARI DIALEKTIKA SEJARAH.
Penulisnya sendiri menyatakan demikian: Ini adalah catatanku. Sebuah tinjauan yang padat perihal enam peradaban sepanjang masa 4000 tahun yang telah membuai bangsa Yahudi dan mengamati beberapa faktor perlawanan dalam salah satu perjuangan hidup yang sangat tidak masuk akal di dalam sejarah. Yakni, tentang sebuah bangsa yang telah memproklamirkan diri sebagai Bangsa Pilihan Tuhan dan dunia nyaris mempercayainya.

Di awali dari kisah sejarah Abraham mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Bagi kita pembaca muslim, tentu ini akan mengingatkan kita pada kisah kenabian Nabi Ibrahim. Pada masa eksistensi Yahudi sepanjang 800 tahun pertama, Yahudi telah berserakan pada peradaban-peradaban besar yang mengelilingi mereka. Yahudi tidak memiliki bangunan-bangunan, kota-kota, tentara-tentara–dalam kenyataannya mereka tak pula memiliki persenjataan. Yang Yahudi bawa adalah IDE-IDE mereka yang pada akhirnya menakhlukkan dunia tanpa menjadikan diri mereka sebagai tuan-tuannya.

Buku ini menyatakan bahwa dari sekitar 3 milyar penduduk dunia ketika itu, 12 juta di antaranya–kurang dari setengah persen–adalah bangsa Yahudi. Secara statistik, mereka sebenarnya hampir tidak teramati, Tetapi bangsa Yahudi justru betul-betul dikenal di luar proporsi dengan jumlah mereka yang kecil. Tidak kurang dari 12% dari semua hadiah Nobel di dalam bidang fisika, kimia, dan kedokteran telah jatuh ke tangan orang-orang Yahudi. Kontribusi Yahudi pada daftar nama-nama besar dunia di bidang agama, sains, sastra, musik, keuangan, dan filsafat, memang cukup mengherankan.

Di tahun 2006 ini sendiri, di antara penduduk dunia yang mencapai 6.5 milyar, hanya 13 jutanya saja yang keturunan Yahudi. Namun, jumlah yang ’sedikit’ itu telah menjadi momok MENYEBALKAN dan layak DIKUTUKI atas segala huru-hara dunia saat ini.

Sepanjang buku ini, kita akan membaca bagaimana bangsa Yahudi bergeser dari satu pusat peradaban ke pusat peradaban lain, salah satunya adalah peradaban Islam di masa kejayaannya; ‘mencuri’ spirit-spirit pencerahan dan keilmuannya, lalu merekayasanya menjadi sebuah arah baru yang menguntungkan diri mereka sendiri saja.

Sekulerisme yang mereka gaungkan untuk menjauhkan umat Kristen dari agamanya sendiri selanjutnya memicu lahirnya Protestanisme, Revolusi Perancis, dan Revolusi Inggris.

Bangsa Yahudi selalu menemukan cara licik untuk menjadi kaya dan unggul dalam segala bidang. Konsep bank sentral, uang kertas, kapitalisme, komunisme, bahkan memperdagangkan kembali barang-barang bekas adalah cuatan ide Yahudi untuk membangun kekuatan ekonomi yang menggurita seperti yang kita dapati saat ini.

Perang Dunia I sejatinya nyaris membunuh gerakan Zionisme. Inggris mengharapkan agar Turki memasuki gelanggang perang di pihak Sekutu. Tetapi kekaisaran Ottoman malah berpihak kepada Jerman, pertanda bencana bagi Inggris maupun kaum Yahudi. Namun ternyata PD I ini melahirkan apa yang dikenal dengan Deklarasi Balfour yang tak lain adalah ungkapan terima kasih pemerintah Inggris kepada bangsa Yahudi untuk peranan yang mereka mainkan. Seorang kimiawan brillian Inggris, Chaim Weizman, menemukan sebuah cara memproduksi kordit sintetis, suatu bahan peledak bagi upaya perang Inggris, yang sebelumnya dibuat dari aseton, bahan kimia yang diimpor dari Jerman sebelum perang.

Tahun 1917, Weizman mendekati pemerintah Inggris dan mengajukan permohonan agar pemerintah Inggris menjadikan sebuah protektorat bagi Rumah Nasional Yahudi di Palestina. Ia pun tak bertepuk sebelah tangan. Melalui Lord Balfour, Menlu Inggris ketika itu, pada 12 November 1917, pemerintah Inggris mengumumkan, ” Pemerintah Sri Paduka memandang dengan kemurahan hati tegaknya sebuah rumah nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. ” Kemudian semenjak itu hingga kini, bercokollah kepongahan Yahudi la’natullah di bumi suci, negeri para Nabi, bumi Allah, Palestina…

Penulis beranggapan berdirinya Negara ISrael adalah awal bagi perpindahan masal dari para petani-petani, manajer-manajer, entrepreneur-entrepreneur, ilmuwan-ilmuwan, dan intelektual dari seluruh dunia, hingga Israel berhasil menjadi sebuah pusat kebudayaan, pusat pendidikan, keilmuan, dan keunggulan dunia.

Bahkan dengan di akhir buku Max menulis bahwa dua pertiga dunia beradab sudah diatur oleh ide-ide bangsa Yahudi–ide Moses, Jesus, Paul, Spinoza, Marx, Freud, Einstein. Akankah dunia di dalam masa 2000 tahun mendatang akan demikian?

Tapi sepertinya Max i Dimont lupa, justru munculnya Peradaban Islam pada abad VII menjadi penolong secara tak langsung bagi bangkitnya Peradaban Kristen Eropa Barat yang mengakibatkan Yahudi melakukan pencerahan bagi dirinya sehingga YAhudi bisa muncul seperti sekarang ini…

Ini sudah diakui oleh para ahli sejarah Barat sendiri

H.G. Wells dalam karyanya The Outline of History di London tahun 1920 bilang lagi “Dari satu sudut baru dan dengan satu kekuatan yang segar, alam pikiran Islam mengambil alih perkembangan sistematik dari ilmu pengetahuan positif yang telah dimulai dan ditinggalkan orang-orang Yunani. Kalau Yunani ayahnya, maka Arablah ayah angkat metoda ilmu pengetahuan yang berkenan dengan realitas, yaitu kebenaran mutlak, pernyataan dan keterangan yang paling sederhana, pernyataan yang tepat dan kritik yang tak mengenal lelah. Melalui Arab-lah, dan bukan melalui Latin, dunia modern menerima anugerah cahaya dan kekuatan.”

W.E. Hocking bilang “oleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Qur’an berisi sangat banyak prinsip-prinsip yang diperlukan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesungguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan abad ke tigabelas, Islam lah pembawa segala apa yang tumbuh yang di dapat dibanggakan oleh Dunia Barat.”
Di kutip dari The Spirit of World Politics, New York, 1932, hal 461

 http://eramuslim.blogdetik.com/2008/11/2…

Tapi Walaupun begitu Buku ini perlu juga di baca agar kita tahu siapa itu Yahudi, Zionisme dan Israel. Buku ini juga ternyata merupakan Buku Bahasa Inggris Tentang Yahudi yang terlaris di Amerika sana.

Nah dalam Kesempatan ini maka saya bermaksud menerjemahkan secara bertahap dan akan saya tuliskan di Blog saya ini selamat membaca…

RAMADHAN lalu ada satu buku yang sering saya baca yaitu Muqaddimah, buku karya Ibn Khaldun. Sambil menjalankan ibadah puasa Ramadan, saya ingin belajar dari warisan intelektual Islam. Bagi yang belum kenal Ibn Khaldun, ini sedikit info. Dia lahir di Tunis (1332) dan wafat di Fez (1406). Meski basisnya Afrika Utara, dia rajin ke mana-mana. Dia pernah menjadi guru dan qadhi (semacam hakim), diplomat, dan penasihat penguasa. Tapi ketakpastian politik mendorongnya untuk lebih rajin meneliti dan menulis, di akhir hayatnya. Karyanya tak banyak. Tapi lewat Muqaddimah dan al-’Ibar, karya sejarahnya, dia banyak disebut sebagai sejarawan muslim terbesar. Kalangan tertentu, bahkan di Barat, memandangnya sebagai penemu sosiologi modern, lewat ‘ilm al-’umran (ilmu peradaban) yang digagasnya.

Nah, bagaimana kita sebaiknya menghargai Ibn Khaldun?
Sudah lama saya mual dengan cara banyak kalangan, terutama muslim, mendiskusikan khazanah intelektual Islam, termasuk Ibn Khaldun.
Kebanyakan hanya retoris-apologetis dan basa basi, ujungnya gak ngerti siapa seh Ibn Khaldun ini. Asal tahu saja: Ultah ke-600 kematian Ibn Khaldun (2006) dirayakan di New York University dengan seminar tentang sumbangannya pada dunia ilmu-ilmu sosial.
Tahun itu, jurnaljurnal sosiologi terkemuka, seperti Current Sociology, International Sociology, Contemporary Sociology, memuat artikel - artikel khusus tentangnya.
Sebelumnya, sudah ada Ibn Khaldun Chair di George Washington University, yang diduduki Akbar S Ahmed, antropolog muslim terkemuka

Sekarang mari kita berkaca (enaknya sambil mendengarkan Man in the Mirror, lagu mendiang Michael Jackson itu). Toh saya tak menemukan penghargaan sejenis oleh kalangan muslim di tahun itu untuknya.
Yang ada malah kabar buruk. Di Mesir, sebuah lembaga riset yang membawa namanya
dan ingin mengembangkan ilmu yang diawalinya, Ibn Khaldun Center, malah ditutup
pemerintah. Alasannya, hasil riset lembaga itu menjelek-jelekkan pemerintahan
Husni Mubarak (seakan diktator Mesir itu, yang memanipulasi suara rakyat dalam
pemilu dan menyiapkan anaknya sebagai penggantinya, perlu dijelek-jelekkan untuk
tampil bopeng). Adapun Saad el-Din Ibrahim, sosiolog dengan reputasi internasional yang mendirikannya, harus ngacir ke Turki untuk menghindari penjara, yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu.

Saya sengaja membawa warisan Ibn Khaldun masuk ke debat kontemporer tentang ilmuilmu
sosial. Kecuali jika dia sendiri mengemukakan sisi-sisi keislaman teorinya, saya melepaskannya dari akar-akar Islamnya (juga Arabnya, sebenarnya).
Kita memperoleh banyak hal. Teori terkenalnya tentang ‘ashabiyah, ‘solidaritas bawaan’, benar-benar bisa diperbandingkan dengan teori-teori mutakhir tentang formasi negara pramodern, yang hingga kini masih sering digunakan untuk memahami banyak negara di Timur Tengah. Juga bermanfaat melihat Ibn Khaldun sebagai teoretikus yang lebih dekat kepada Marx (konfl ik) daripada Weber
(integrasi). Bukankah teori berpengaruh Ernest Gellner, tentang gerak pendulum dalam
reformasi Islam, seperti diakuinya sendiri, banyak dikembangkan dari Ibn Khaldun?
Dan lainnya. Ringkasnya, bersama Ibn Khaldun, kita harus mengembangkan optimisme lebih jauh tentang manusia dan ilmu yang dibangun untuk lebih memahami mereka. Sehubungan dengan Islam dan non-Islam, mari kita cari lebih banyak irisan di antara keduanya. Itu dengan menemukan titik temu dan titik pisah, untuk saling berbagi atau menerima dan mengelola perbedaan.
Saya kira inilah cara terbaik kita menghargai Ibn Khaldun. Dengan Muqaddimah dan
al-’Ibar, dia tidak saja tertarik pada peristiwa sejarah tertentu, tapi juga pada hukum sosial apa yang bisa ditarik darinya untuk membangun peradaban manusia.

Dalam Sejarah Perang Salib yang di kutip dari  buku “The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam” karya Karen Amstrong, dan Buku The Preaching of Islam karya T.W. Arnold terungkap fakta fakta sebagai berikut

1. Richard the Lion heart, yang terkenal sebagai Raja Inggris, dan lucunya beliau tidak bisa bahasa inggris. Karena sejak kecil dia selalu berada di Prancis. Dia cuma numpang lahir di Inggris. Bahkan konon, beliau lebih mahir bahasa Arab daripada bahasa Inggris.

2. Raja Richard berada di Inggris dalam masa pemerintahannya hanya selama 11 bulan. Permaisurinya, Queen Berengaria of Navarre, malah tidak pernah ke Inggris sama sekali. Oleh karena itu Richard juga dikenal sebagai ” The Absent King

3. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : “Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi “

4. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.

5. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran

6. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?

7. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.

8. Menurut catatan sejarah, pada saat perang salib, semua wanita dan pelacur di usir keluar dari kamp crusaders. Seluruh crusaders harus suci secara jasmaniah, bebas dari nafsu. Tapi ada satu grup wanita yg bebas keluar masuk camp crusaders yaitu tukang cuci baju. Bahkan kalau satu grup tukang cuci mau bepergian antar kota, mereka dijaga oleh sepasukan knight, dan dibuntuti pasukan infantri. Kalau iring-iringan ini diserang, keselamatan para tukang cuci ini no.1. Waktu ditawan pasukan muslim, para tukang cuci ini lebih dihormati daripada prajurit biasa. Sampai-sampai Richard The Lion Heart juga rela membayar ransum buat para tukang cuci itu

9. Ketika Frederick Barbarossa (kakek kaisar Frederik II) meninggal pada ekspedisi perang salib III, banyak ksatrianya yang menganggap bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan banyak yang bergabung dengan kaum muslim. Lalu yang tersisa membawa jasad Barbarossa menuju ke yerusalem dengan anggapan nanti Barbarosa akan terlahir kembali.

10. Frederick II Kaisar Jerman, punya hubungan khusus dengan Sultan Malik dari Mesir di perang salib V. Beliau merasa di jaman itu (jaman dark ages), satu-satunya yang sebanding dengan dia di masalah budaya dan personality adalah pangeran-pangeran dari kerajaan muslim. Oleh karena itu gaya hidupnya agak nyentrik (dia berpoligami, padahal seorang Katolik tidak demikian).

11. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir

12. Pernah ada kejadian Frederick II memukul pendeta yang masuk ke dalam masjid dan memperingatkan agar jangan melakukan hal itu lagi. Sedangkan al-Malik pernah dinasehati oleh Knight Templar agar membunuh Frederick II pada saat pengawalannya sedang longgar. Mengetahui hal tersebut, al-Malik segera menyuruh Frederick II agar segera pergi dari situ karena keadaannya ‘berbahaya’.

13. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack

14. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.

15. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.

16. Divisi elit pasukan berkuda Cossack di Rusia dan Musketer berkuda di Prancis karena terinspirasi suksesnya pasukan berkuda pemanah bangsa Arab. Pasukan berkuda bukan hanya sebagai pasukan sayab tapi menjadi pasukan khusus

17. Membangun sepasukan knights memakan biaya yang sangat besar. Seorang raja sekalipun di abad pertengahan paling hanya memiliki sekitar 100 – 300 Full Knight dengan Heavy Horse yang berdinas dibawah komandonya secara full – time. Biasanya para raja akan mengumpulkan seluruh Knight yang berada di bawah para duke dan baronnya apabila menghadapi pertempuran besar.

18. Para Knights umumnya adalah anak para ningrat yang tidak memiliki hak waris. Di masa itu seperti juga para bangsawan dimana saja, kekayaan dan kekuasaan sang ayah hanya diwarisi oleh putra sulungnya, kecuali tingkat raja atau baron kaya dimana putra ke dua hingga ke 3 masih mungkin mewarisi satu county atau estate dengan kastil kecil. Putra-putra yang tidak atau merasa kurang memiliki kekayaan biasanya sejak remaja mengasah diri dengan ketrampilan perang. Mereka kemudian pada usia tertentu (15-16 tahun ) di inagurasi menjadi knight oleh raja atau baron tempat dia mengabdi.

19. Ada sebuah aturan yang tidak pernah dilanggar oleh kedua belah pihak sewaktu perang salib. Yaitu Fakta Nobility atau Hukum Chivalry yang berlaku di abad pertengahan bahwa raja tidak boleh membunuh sesama raja. Khususnya apabila tertawan. Salah satu kode etik knights dan para noble adalah mereka pantang membunuh keluarga atau orang2 dari keturunan ningrat yang menyerah/tertawan dalam pertempuran. Akan tetapi khusus buat religius-military Order spt Templar, Hospitaller dan Teutonic dalam perang Salib, peraturan itu tidak berlaku terhadap para noble/ningrat Muslim. Kecuali dalam kondisi khusus atau mendapat spesial order dari pemimpin Crusader yang mendapat mandat langsung dari Paus. Dalam tradisi Arab sendiri, seorang raja pantang membunuh sesama raja. Hal itu yang diterapkan Saladin ketika dia tidak membunuh Guy of Lusignan, raja kerajaan Latin di Yerusalem ketika berhasil memenangkan pertempuran Hattin

20. Saladin pernah melanggar etika dan hukum perang Islam yg selalu dia junjung tinggi ketika dia mengeksekusi semua tawanan Ksatria Templar dan Hospitaller ketika dia memenangkan pertempuran Hattin. Sementara Richard The Lion Heart juga pernah melanggar kode etik Chivalry serta etika Noble-nya saat dia mengeksekusi 2000 serdadu Saladin yang tertawan di depan gerbang Acre/Akko

Nurcholis Madjid sempat pernah mengatakan bahwa, Barat tetap saja tidak mengakui adanya utang budi kepada peradaban Islam. Ini berbeda berbeda dengan pada umumnya sikap kaum muslimin. Orang Islam dari dulu sudah mengakui bahwa filsafat dipinjam dari Yunani, matematika dari India, kimia dipinjam dari Cina dan seterusnya. Itu semua diakui tanpa ada halangan sama sekali.1

Sementara itu, seorang sarjana Barat bernama Max Dimont mengatakan bahwa orang Barat menderita narsisisme. Mereka mengagumi diri sendiri dan kurang memiliki kesediaan untuk mengakui utang budinya kepada bangsa lain-lain. Mereka hanya mengatakan, bahwa yang mereka dapatkan itu adalah warisan dari Yunani dan Romawi. 2 Karena itu perlu ada pelacakan historis dalam menemukan dan membuktikan pengaruh peradaban Islam dalam perkembangan peradaban Barat. Makalah ini berupaya keras untuk membuktikan hal tersebut.

Proses Ekspansi Ke Andalusia

Ketika itu Dinasti Umayah dipegang oleh Khalifah al- Walid bin Abdul Malik (al-Walid I ) (naik takhta 86 H 1705 M ), khalifah keenam. la menunjuk Musa bin Nusair sebagai gubernur di Afrika Utara Pada masa kepemimpinan Musa bin Nusair, Afrika sebagian barat dapat di kuasai kecuali Sabtah (Ceuta ) yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Bizantium. Ketika inilah pasukan Islam mampu menguasai bagian barat sampai Andalusia.

Kerja sama ditawarkan oleh Julian kepada tentara Islam yang ketika itu dipimpin oleh Musa bin Nusair di terima dengan baik. Setelah mendapat persetujuan dari Khalifah al Walid I, Musa bin Nusair memerintahkan panglima Tariq bin Abdul Malik an- Nakha I melakukan penjajakan awal dengan membawa 400 tentara dengan 100 pasukan berkuda memasuki wilayah Andalusia pada tahun 710. pada tahun 711. Musa bin Nusair mengutus *Tariq bin Ziyad untuk melanjutkan penyerangan ke Andalusia dengan pasukan yang lebih besar _ ini merupakan masa pertama bagi Islam memasuki Andalusia Tariq bin Ziyad memimpin pasukan yang berjumlah kurang Iebih 7. 000 orang (ada jugs yang menyebutkan jumlahnya 12000 prang Barbar) untuk menyerbu Andalusia.

Pasukan yang dipimpinya mendarat di sebuah bukit, yang kemudian di abadikan dengan nama Jabal Tariq atau Jibraltar. Pasukan Tariq bin Ziyad berhasil mengalahkan Raja Roderick yang tewas dalam pertempuran itu . Kemenangan ini menjadi modal baginya untuk menaklukan wilayah lainya seperti Cordoba, Archedoba, Malaga, Elvira, dan akhiny Toledo; yakni pusat kerajaan Visigoth. Mendengar keberhasilan pasukan Islam, maka pada tahun 721 Musa bin Nusair memimpin satu pasukan menuju Andalusia melalui jalan yang tidak dilalui oleh pasukan Tariq. Pasukan bin Nusair ini melewati pantai barat Semenanjung dan berhasil menakuukan kota- kota yang di lewatinya, antara lain Sevilla dan Merida pasukan Musa bin Nusair bertemu dengan pasukan Tariq bin Ziyad di kota Taledo.

Dengan bergabungnya dua pasukan , daerah yang ditaklukan semakin meluas sampai keutara seperti Saragosa, Terroofona , dan Barcelona. Setelah daulat Bani Umayyah di Damascus di tumbangkan Daulat Abasiyyah berdiri dengan khalifah pertama Abu Abbas as- Saffah. ketika itu juga keamiran di Andalusia berada di tangan Yusuf bin Abdurrahman al - Fihr (129 H/ 746 M- 138 H/ 756 M) dari Bani Muzar. Salah seorang dari keluarga Umayyah yang bemama Abdurrahman bin Mu’a wiyah bin Hisyam bin Abdul Malik , yang bergelar Abdurrahman ad- Dakhi, selamat dari penangkapan Dinasti Abbasiyah yang selalu mengejar-ngejar keturunanan Umayyah, bahkan berhasil memasuki Andalusia, setelah berhasil menghadapi berbagai tangtangan, antara lain penguasa Andalusia pada waktu itu, akhirnya Abdurrahman bin Mu awiyah berhasil mengambil alih kekuasaan.

Abdurrahman bin Mu’a wiyah memasuki wilayah Andalusia ini antara lain karena adanya perselisihan di antara kabilah-kabilah, khususnya masalah intern kabilah Arab dari Qais dan Yaman yang tidak setuju terhadap kepemimpinan Yusuf bin Abdulrrahman al-Fihr. Abdulrrahman bin Muawiyah juga mendapat dukungan dari warga Umayah yang telah tinggal di Andalusia di samping dari dukungan Yaman yang sedang bertikai dengan Yusuf din Abdulrrahman at- Fihr. Abdulrrahman III menjadikan Andalusia suatu kekhalifahan dengan khalifah yang bergelar Amirulmukminin (912-1031). Gelar khalifah selanjutnya di pergunakan oleh pengganti - penggantinya sapai akhir masa pemerintahan Bani Umayyah. Setelah berakhinya Bani Umayyah (1031 ), Andalusia pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecit yang lajim disebut Muluk at- tawa’if (raja- raja kelompok/ golongan )

Sebagaimana munculnya dinasti- dinasti kecil di timur. Dinasti- dinasti kecil itu antara lain Bani Abbad di Sevilla, Bani Hud di Saragosa ; Bani Zun­Nun di Toledo, Bani Ziri di Granada, dan Bani Hammud di Khordoba dan Malaga . sesudah Muluk at- Tawa’if muncullah Dinasti Murabitun yang berkuasa pada tahun 1090- 1147, kemudian Dinasti Muwahhidun ( al­Muwahhidun ) pada tahun 1147- 1232, Dan selanjutnya Dinasti Bani Nasir

pada tahun 1232 - 1492 .

Ketiga dinasti tersebut di atas mencapai kemajuan di berbagai bidang mengalami zaman keemasan ilmu pengetahuan dengan berhasil memunculkan lembaga-lembaga pendidikan terkenal yang menelurkan para ilmuan ternama. Ilmu pengetahuan berkembang dengan perantaraan bahasa Arab . Orang orang Andalusia, balk muslim atau non muslim, menerima dan mempelajari bahasa Arab. Akibatnya, lahirnya beberapa ahli bahasa . diantaranya Ibnu khusuf, Ibnu al-Hajj, Abu Hasan, Ibnu Asfur, Abu Hasyyan al- Garnati, dan Ibnu Malik yang mengarang kitab a/ - Alfiyah (buku tata bahasa arab yang di susun dalam bentuk seribu bait syair) Filsuf - Filsuf besar yang lahir dalam periode ini antara lain Ibnu Tufail (w. 1185)

Yang menulis buku Hayy Ibn Yaqzan ( buku filsafat yang berisikan cerita seorang anak yang di pelihara oleh rusa filsafat akal dan wahyu ) Ibnu Bajjah (w. 1138 ) yang dalam literatur Barat dikenal dengan Avenpas dan merupakan komentaror kaya- karya Aristoteres, ahii fisika dan ahli musik karyanya yang utama adalah Tadbir al - Mutawahhid (susunan yang menyatu ), kemudian Ibnu Rusyid ( 1126 - 1198 ) yang memberikan jawaban atas serangan al-Gazali dalam bukunya Tahafut at- Tahafut (keracunan dari keracunan ), dan komentar terhadap karya Aristoteles Jami Talkhis (rangkuman yang Iengkap ). karena pengaruhnya yang besar, di Eropa rnuncul suatu aliran Filsafat yang di kenal dengan nama Averoisme.

Disamping ilmu-ilmu aqli ( ilmu yang berdasar pada penalaran rasional) berkembang pula ilmu- ilmu naqli ( ilmu yang berdasar pada Al­Qur’ an dan hadis ) . Di bidang Tafsir Al- Qur `an , Andalusia melahirkan nama- nama antara lain Ibnu Ati ah (w. 546 H ) dan al - Qurtubi (w. 671 H ), dua mufasir (ahli tafsir) ini menggunakan metode penulisan at - Tabari yang dikenal dengan Tafsir bi al - Ma ` sur. Bidang hadis, terdapat para pakar seperti Ibnu Waddah bin Abdul barr, al Qadi bin Yahya al- Laisi, Abdul walid al- Baji , Abdul walid bin Rusyid , dan Abu Asim yang menulis kitab at Tuhfah (persembahan ),

Dalam bidang fikih / syariat muncul beberapa ilmuwan terkemuka . umpamanya Abu Bakar al–Qutiyah, Ibn Hazm yang menulis kitab al - Muhalla (tentang fikih ) dan al - Ihkam fi- Usul a/ Ahkam (tentang usul fiqih). Munzir bin Sa’id al- Balluti (w. 355 H ) yang pernah menjadi hakim agung di rnasa pemerintahan Abdurrahman III, dan Ibnu Rusyid dengan k &dayah al- Mujtahid (permulaan bagi seorang Mujtahid Islam bidang tasawuf, Andalusia memiliki nama- nama sepert] Irlkrtvydm’ Ibnu Arabi, sufi ternama yang menghasilkan banyak karya tulis & risalah al- Futuhat al- Makkiyyah ( Penaklukan Mekah ). dan terkenai dengan pw -Wahdatul wujud ( kesatuan wujud ).

Di bidang kedokteran Andalusia juga mencapai kejayaanya. Cordoba sebagai salah satu pusat aktivitas medic telah melahirkan beberapa Ilmuwan terkemuka. Diantara Ilmuwan yang telah banyak jasanya terhadap perkembanga ilmu medis Islam ialah Ibnu Rusyd yang telah menghasilkan karya besar kitab al- Kulliyyat fi at- Tibb (tentang pilsapat ilmu kedokteran ), suatu kitab referensi yang di pakai selama berabad-abad di Eropa . di bidang obat-obat an di kenal nama-nama sebagai Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad al- Gafiqi ( w. 1165 ) dengan karyanya al Adawiah al- Mufradah (urayan tentang berbagai macam obat ) dan Abu Bakar Jakariya Yahya bin Awwan dengan karyanya yang berjudul al- fillahat ( urayan tentang berbagai macam obat ),

Dalam bidang pertanian, Andalusia sudah mengenal irigasi dan saluran­saluran air. Dengan pembangunan irigasi yang baik mereka dapat membangun kebun tebu, kapas, padi , jeruk , anggur, dan sebagainya . kemajuan dalam bidang ini membawa kemakmuran dan kesejahteraan kepada masyarakat. Karena kemajuaan ekonomi, Andalusia mampu membangun beberapa kota yang megah dan mempunyai banyak bangunan menumental. Abdurrahman III membangun kota kordoba sebagai kota pemerintahan kota Cordoba dilengkapi denga taman istana jatan-jalan Masjid, perpustakaan, perkantoran , dan lain - lain . kota termegah adalah az- Zahra yang di bangun oleh Abdurrahman III dan kota Granada . yang Cantik dan megah yang memiliki . Alhambra yang sangat terkenal di dunia . Cordoba juga terkenal dengan universitasnya. Yaitu Universitas Cordoba Universitas ini memiliki kampus yang megah y ang di bangun oleh al­Haqam II Abdurrahman III (961- 976 ).

Kemajuan di didang seni, seperti arsitektur dan desain, dapat di lihat dari keindahan Mesjid Cordoba yang di bangun pada masa Abdurrahman ad Dakhlil. Di bidang sastra, Andalusia memunculkan nama seperi Ibnu Sayidar al- Andalusi yang menulis kitab al Mujam (ensiklopedi ) dan Muhammad bin Hani yang menulis al-Andalusia ( uraian tentang Andalusia) . Di bidang sejarah di kenal Ibnu Qutiyah (w. 927 ) , penulis buku Ta’ rikh iftitah al -andalis yang berisi sejarah penaklukan Andalusia sampai mass awal kekuasaan Abdurrahman III .,

Dalam bidang geografi, dari Andalusia muncul, nama-nama cemerlang seperti Ibnu Abdul Aziz al Bahri (w, 1094 ). Dengan karyanya al - Masalik wa al- Mamalik ( tentang geografi ), al-Idrisi (1100- 1166 ). Abdul Husain Muhamad bin Ahmad al- Kinani bin Jubair ( 145) . dengan karyanya Rihlan (suatu perjalanan ), dan Muhamad Al- Mazini (1080- 1170) Seorang ahli geografi terkenal .

Dalam bidang astronomi, terkenal nama- nama az- Zarqali ( 1.1029 ). Di toledo Abdul Qasim Maslama bin Ahmad al- Farabi al- Habib al- Majriti ( w. 1007 ) di Cordoba yang merupakan terkemuka muslim Andalusia angkatan pertama. Selain itu, muncul Jabir bin Aflah Abu Muhammad (w. 1204 ), di Sevilla yang menulis kitab al- Hai’a , yang membuat angka -angka trigomometrik yang masih di gunakan sampai sekarang, dan Nuruddin Abu Ishaq al- Bitruji (w. 1204 ). yang menulis kitab Al- Hai’a, . karya- karya para Astronom muslim ini telah banyak menyumbangkan istilah yang berasal dari bahasa Arab ke dalam pembendaharaan ilmu Astronomi dan matematika.3

Andalusia di bawah kekuasaan Islam mengalami kemajuaan pesat dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan sehingga menjadi tujuan mencari ilmu di Arab pertengahan. Kemajuan tersebut secara berangsur- angsur pudar dan akhirnya hilang yang tertinggal adalah peninggalan masa lampau yang gemilang. Munculnya dinasti-dinasti kecil mengakibatkan disintregrasi kekuatan islam Andalusia. Mereka sating berperang bahkan di adu domba oleh pihak ke tiga. Sementara dinasti dinati kecil sating berperang, orang kristen menyatukan diri untuk menaklukan orang Islam dan mengusirnya dari Andalusia.

Secara politik, kekuatan Islam berakhir pada abad ke, 15 yang di tandal dengan kekalahan demi kekalahan kerajaan Islam. pada tahun 1469 kerajaan Ferdinand dari Arogon dan kerajaan isabella dari Castilia bersatu menyerang kekuatan Islam di bawah kekuasaan Dinasti Ahmar di Granada yang terkenal dengan Alhamra. Pada tanggal 2 Januari 1492 / 2 Rabiul awal 897, Ibu kota Granada. di kepung dan di takiukan oleh penguasa Kristen . Setelah orang Kristen menguasai orang Andalusia, gerakan Kristenisasi di laksanakan, yaitu memaksa orang menganut kembali Agama Kristen Kardinal Ximenerde Cisneros menyingkirkan semua buku Arab. yang menguraikan Agama islam dan membakarnya pada tahun 1556 , Raja philip II ( Raja Spanyol 1556- 1598) mengumumkan suatu Undang- undang agar kaum muslimin yang masih tinggal di Andalusia membuang ke percayaan , bahasa adat istiadat dan cara hidupnya. Pada tahun 1609 Raja Philip III 1598- 1621 ) mengusir secara paksa semua kaum muslimin dari Andalusia atau mereka di hadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau keluar dari Andalusia .

Henri Pirenne berpendapat bahwa penaklukan orang-orang Arab atas Afrika Utara dan Spanyol telah mengubah pola-pola perdagangan lama. Dikemukakannya juga bahwa penaklukan tersebut telah mengakibatkan Eropa Barat lebih melihat ke utara ketimbang laut tengah.4 Lebih lanjut, Watt mengemukakan bahwa orang Arab telah memberi sumbangan mereka dalam hal teknik pelayaran kepada orang Eropa. Peta laut yang merupakan alat penting untuk pelayaran telah dikembangkan dari perpetaan Islam oleh orang-orang Genoa dan yang lain-lainnya. Dubawah lindungan seorang sarjana Arab dari Afrika Utara dan Cordova, al-Idris (1100-1166), telah menghasilkan gambaran dunia yang lengkap seperti yang telah dikenal saat ini. Dari Orang Arab pula orang Eropa memperoleh pengetahuan geografis yang lebih luas dan memadai.5 Leih lanut pula Wattt menguarikan, sumbangan orang Arab bagi peradaban Barat antara lain sistem pertanian, dan irigasi (perairan).

Pelacakan historis tersebut menjadi sangt logis bahwa peradaban. Barat dibnagun dari rahim fase sejarah Islam menduduki Andalusia. Secara sosial politik, Islam dalam posisi yang sangat kuat untuk melakukan ekspansi dan secara peradaban dalam Puncak keemasaannya. Proses ekspansi inidiikuti dengan transfer of science dari kaum muslimin ke penduduk Andalusia saat itu. Kebudayaan terbuka dan dermawan ilmu yang dibangun oleh kaum Muslimin saat itu, menjadikan setiap kelompok, daerah, atau suku bangsa sangat terbuka lebar menimba ilmu pengetahuan dari kaum Muslimin di Andalusia. Termasuk banyak orang-orang Eropa yang banyak menimba ilmu pengetauan dari Muslim Spanyol. Ketika mereka sudah kembali ke daerah masing-masing banyak yang mengembangkan ilmu pengetauan tersebut di daratan Eropa.

Roda sejarah pun berputar, ketika kekuatan sosial politik makro umat Islam seat itu mengalami keruntuhan, make seiring dengan itu jatuh pula tradisi peradaban yang telah dibangun cukup lama di berbagai bidang ilmu tersebut. Dalam kondisi ini Eropa terus memacu etos saintis yang telah didapat kaum Muslimin Spanyol. Akhirnya, Eropa Barat berhasil melesat menjadi bangsa termaju dalam sains dan teknologi, dengan bermodal dari akar keilmuan umat Islam dan menggilas dunia muslim. Proses senjata makan tuan pun terjadi. Kaum muslimin yang membuat sains dasar, orang Eropa yang mengembangkan, dan Akhirnya Eropa pun membunuh kaum muslimin. Wallahu `a/am bissawab.

Daftar Pustaka

Nurcholish, Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, Paramadina, Jakarta, 1996 Watt, R. Montgomery, Islam dan Peradaban Dunia, Gramedia, Jakarta, 1995 Tim 1AIN Jakarta, Ensiklpoedia Islam, Jakarta., 2000.

Tidak sampai tiga minggu setelah tragedi runtuhnya menara kembar WTC akibat serangan teroris 11 September 2001, Heather Ramaha hadir di Masjid Manoa, Honolulu, Hawaii. Ia tidak sendiri. Beberapa wanita menyertainya. ”Asyhadu ala Ilaha ilallah, wa asyhadui anna muhammadarasulullah,” kalimat syahadat itu meluncur lancar dari mulut mereka. Sejak hari itu, Ramaha menjadi pemeluk Islam. Tak mau setengah-setengah, ia langsung mengenakan jilbab.

Heather Ramaha

Heather Ramaha

Pencarian Ramaha akan agama sudah berlangsung lama. Wanita asal California ini berasal dari keluarga Kristen yang kurang taat. Ia sempat mempelajari beberapa agama sebelum akhirnya menemukan Islam.

Ketertarikannya pada Islam pun terjadi secara tak disengaja. Saat itu ia menonton film di televisi berjudul Not Without My Daughter yang menceritakan tentang perempuan Amerika yang menjadi korban kekerasan suaminya, seorang lelaki Iran. Ia berjuang mendapatkan hak asuh ketiga anaknya.

Ia mulai mendatangi Islamic Center di kotanya sejak itu. Beberapa bulan setelah ia menimba ilmu di University of Hawaii, ia beranikan diri berpamitan pada keluarganya untuk menganut Islam. ”Banyak ketidakjelasan dalam agama lama saya. Islam sangat terbuka pada banyak ide,” ujarnya.

Kini, empat tahun setelah tragedi itu, gelombang pindah agama masih terjadi di salah satu tujuan wisata dunia itu. Bahkan, sebuah media lokal, menyebut, berislam kini sedang menjadi tren baru di kalangan mahasiswa dan masyarakat Hawaii. Hakim Ouansafi, presiden Muslim Association of Hawaii, menyatakan, mualaf di Hawai bertambah paling sedikit tiga orang perbulan. Bahkan dalam dua bulan terakhir ini, sebanyak 23 orang non-Muslim menyatakan diri berislam.

Kebanyakan mualaf, kata dia, adalah perempuan. Jika rasio nasional antara mualaf pria dengan wanita adalah 1 : 4, maka rasio mualaf pria-wanita di Hawaii adalah 1 : 2. Kebanyakan dari mereka, terutama yang di Honolulu, adalah keturunan Afrika-Amerika. ”Beberapa di antaranya menemukan Allah saat mereka dalam proses penyembuhan dari ketergantungan terhadap obat-obatan dan alkohol,” ujarnya.

Di wilayah West Coast lain lagi. Beberapa orang mualaf adalah anggota militer. Bila di Honolulu para mualaf itu sebelumnya mengaku tak beragama, maka di wilayah West Coast, umumnya mereka sebelum berislam adalah penganut suatu agama.

Ouansafi yang sebelumnya beragama Kristen ini menyatakan, para mualaf tertarik mempelajari Islam setelah mereka melihat ajaran Islam yang jauh dari apa yang diberitakan media. ”Bila di media disebut Muslim dekat dengan teroris, setelah kenal lebih dekat, Islam jauh dari semua tudingan itu,” ujarnya seraya menambahkan, di semua agama ada umatnya yang jahat, namun bukan berarti agama itu jahat.

Cromwell Crawford, pimpinan Departemen Agama di University of Hawaii-Manoa, mempunyai penjelasan mengenai tren pindah agama di Hawaii ini. Menurut dia, efek dari Tragedi 11 September terhadap psikologis bangsa adalah, seluruh warga jadi memperhatikan tentang kefanaan hidup ini. ”Mood pun jadi berubah, para lajang mencari ikatan, keluarga menjadi semakin erat, dan orang kembali mencari pegangan agama,” ujarnya.

Tak hanya Islam yang diuntungkan dengan kondisi ini, kata dia, agama lain juga. ”Mereka yang semula tak beragama, kini mencari pegangan agama.” Mengapa kebanyakan wanita? ”Dalam mengekspresikan mood ini, wanita lebih mendalam ketimbang pria,” ujarnya, ”Pergilah Anda ke gereja, dan Andapun akan banyak menjumpai kaum wanita di sana ketimbang pria.”

Senada dengan Crawford, Ouansafi juga menolak fenomena itu disebut sebagai pindah agama. ”Mereka hanya kembali ke fitrahnya,” kata dia. Menurut dia, seorang mualaf akan diampuni segala dosanya di masa lampau dan akan kembali terlahir seperti bayi.

Seremoni pegngislaman juga jauh dari kesan pemaksaan. Sebelumnya, calon mualaf diwawancarai mengenai pengetahuan mereka tentang Islam, dan pertanyaan “wajib”: apakah mereka berislam dengan sukarela atau paksaan? Mereka lantas dipahamkan mengenai Yesus dalam Islam: bukan tuhan, melainkan salah seorang nabi Allah di samping Ibrahim/Abraham, Musa/Moses, Muhammad, dan lainnya.

Empat tahun setelah berislam, Ramaha kini menjadi karyawati sipil di Angkatan Laut AS di pangkalan Pearl Harbor sebagai perawat gigi. Aturan kantor yang melarangnya berjilbab ditepatinya, namun di luar kantor, ia tetap sebagai Muslimah berjilbab. Suaminya, seorang tentara angkatan laut, adalah seorang Muslim. n tri/Honolulu Star Bulletin

Berkat Kiprah Mahasiswa Asal Asia

Sebagai daerah tujuan wisata dan perdagangan, Hawaii menjadi pusat pertemuan aneka kebudayaan dan agama. Islam sudah lebih seabad hadir di sana. Tetapi, organisasi Muslim baru ada di wilayah ini sejak akhir tahun 1960-an. Cikal bakalnya digagas oleh para mahasiswa asal Asia yang tengah menimba ilmu di negara itu.

Imam dan pimpinan spiritual Muslim Hawaii pertama adalah pria kelahiran Cina, pensiunan diplomat karir yang sebelumnya bertugas di Arab Saudi dan Kuwait. Dia adalah Haji Saad Abdul Rahim Shih Ming Wang.

Lulusan Universitas Al Azhar Kairo ini menjadi imam pertama di Hawaii. Saat itu, belum ada satu masjidpun yang berdiri di wilayah ini.

Baru tahun 1979, Masjid Manoa diresmikan penggunaannya. Masjid itu asalnya adalah sebuah bangunan megah yang dibeli atas donasi keluarga kerajaan Arab senilai 500 ribu dolar AS. Karenanya, tak ada aksen Islam yang tercermin dari bangunan itu.

Sejarah Islam di Hawaii dikumpulkan lagi oleh Mona Darwich, dosen senior di University of Hawaii, dalam tesisnya yang berjudul Inside and Outside the Mosque: Oral Histories of Hawaii’s Muslims. Dia menuliskan tesisnya setelah mengumpulkan banyak bahan pustaka dan mewawancarai 33 orang nara sumber. Ia juga mendokumentasikan puluhan pemuda yang tengah belajar Islam dan memfilmkan kisah Achmed Djuneid, seorang remaja Muslim di Hawaii.

Wawancara juga dilakukannya melalui email para mahasiswa yang dulu mendirikan organisasi Muslim Hawaii sudah kembali ke negaranya masing-masing. Dua di antaranya adalah Dr Makhdoom Shah, asal Kuwait dan Dr Pramudita Anggraita, asal Indonesia, yang kini menjabat sebagai Deputi Bidang Penelitian Dasar dan terapan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).

Menurut catatan Darwich, Muslim Association of Hawaii (MAH) sebelumnya bernama The Muslim Student Association (MSA) digagas sekitar 30 tahun lalu. MSA didirikan oleh para mahasiswa Muslim University of Hawaii di Manoa. Mereka berasal dari India, Pakistan, Afghanistan, Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah.

Aktivitas mereka dipusatkan di sebuah cottage di East West Center, sebelum Masjid Manoa terbeli.

Pada tanggal 23 Juli 1979, MSA dikukuhkan sebagai organisasi yang merepresentasikan kaum Muslim

Hawaii. Pada saat itu, anggota MSA bukan lagi hanya mahasiswa saja, tetapi 90 persennya justru masyarakat Hawaii. ”Nama student tetap dipakai karena Muslim meyakini selama mereka hidup mereka terus “belajar” untuk menjadi Muslim yang baik,” Makhdoom Shah, seperti diceritakan Darwich.

Pendiri awal organisasi ini antara lain adalah Najibullah Lafraie, James Abdullah Raushy, Saad Abdul Rahim Shih Min Wang, Abdul Haq, Makhdoom Shah, dan Pramudita Anggraita. Mereka lantas berjuang mengumpulkan sumbangan untuk mendirikan Islamic Center Hawaii. Star Bulletin menulis, James Abdullah Roushey menemui Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal, putra Raja Arab Saudi saat itu, mengajukan proposal pembangunan pusat kebudayaan islam terpadu di Hawaii. Keluarga kerajaan Arab Saudi setuju.

Sejak saat itu, Muslim Hawaii memiliki masjid dan Islamic Center yang megah.

Melihat perkembangan Islam yang demikian pesat, para pengurus MSA sepakat untuk mengganti nama organisasinya menjadi The Muslim Association of Hawaii (MAH) pada tanggal 4 Februari 1997. Namun nama MSA sebagai cikal bakal perkembangan Islam di Hawaii tidak terhapus dari sejarah.

Sumber :  http://the.honoluluadvertiser.com/article/2001/Nov/11/ln/ln06a.html

Islam di Mexico

January 29, 2009 |  Tagged , | Leave a Comment

Suku Indian di Meksiko berbondong-bondong memeluk agama Islam. Pemerintah pun mulai ‘gerah’. Setelah lama menjadi basis penganut Katolik, wilayah selatan Meksiko secara cepat berubah bagai medan pencarian iman. Termasuk pula agama Islam, yang tercatat berhasil menanamkan pengaruhnya setelah ratusan kaum Indian Maya beralih menjadi Muslim. Dan pemerintah Meksiko pun dibuat khawatir terhadap merebaknya ‘benturan budaya’ di halaman belakang mereka sendiri.

“Dalam agama Islam, tidak mengenal perbedaan suku serta etnis,” ungkap seorang mualaf dari suku Maya kepada media Jerman, Der Spiegel, saat ditanya alasannya berpindah agama. Ia mengaku belajar banyak agama sebelum akhirnya memilih Islam sebagai agamanya.

Rasa antusiasmenya terhadap agama ini bisa dimengerti. Di kampung halamannya di Chiapas, wilayah paling miskin di Meksiko, suku tradisional kerap dipandang sebagai warga kelas dua. Orang kulit putih dan Mestizos pun selalu mengancam mereka. Bahkan, di kota San Cristobal de las Casas, kota terbesar di selatan, orang-orang asli Indian harus menyingkir ke jalan ketika ada orang kulit putih mendekati mereka di trotoar.

Namun kehidupan terus berjalan. Gomez, 23, misalnya, memeluk agama Islam sejak delapan tahun lalu. Dia sudah mengganti namanya menjadi Ibrahim dan berhaji. Menurut penuturannya, sekitar tujuh tahun lalu, memeluk islam bagi suku Indian di wilayah tersebut masih menjadi sesuatu yang anomali. Tetapi kini, Muslimah berjilbab sudah merupakan pemandangan biasa yang bisa ditemui di jalan-jalan kota San Cristobal.

Sekitar 300 Indian dari suku Tzozil, juga telah beralih memeluk Islam dalam beberapa tahun belakangan dan jumlahnya masih terus meningkat. Fakta tersebut jelas merisaukan pemerintah Meksiko. Akibatnya, pemerintah mencurigai para mualaf ini dengan tuduhan melakukan aktivitas subversif dan telah menyebar agen dinas rahasia untuk mengamati suku Maya-Muslim ini. Presiden Meksiko Vincente Fox mengaku khawatir terhadap pengaruh kaum fundementalis radikal Alkaidah di wilayah itu.

Kendati demikian, kaum Indian tidak mau terpengaruh dengan kekhawatiran dari pemerintah, mulai dari tuduhan menjadi kaum ekstrimis, mancampuri urusan politik, atau apa pun namanya. Hanya satu hal yang mereka ingin lakukan, yakni beribadah sebaik-baiknya.

Para mualaf itu kebanyakan menganut Islam Suni, khususnya faham Murabitun yang didirikan oleh Ian Dallas, seorang Skotlandia yang beralih ke Islam. Pengikut faham Murabitun melaksanakan ajaran Islam yang melarang mengambil bunga/keuntungan dari aktivitas peminjaman uang dan melakukan dakwah sesuai perintah Alquran.

“Mereka ingin memperbaiki kondisi berdasarkan kaidah Islam,” ucap seorang ahli antropolog, Gaspar Marquecho, peneliti umat Muslim di Chiapas. “Penolakan mereka terhadap kapitalisme tidak berbeda dengan kritik yang kerap dilontarkan oleh kaum sayap kiri terhadap dampak globalisasi.”

Siapa ‘misionaris’ Muslim di kalangan suku Indian Maya? Sebuah fakta menyebutkan, ketika suku Maya-Muslim di Chiapas belum lama mendapat perhatian besar, maka peralihan agama ke Muslim di kalangan suku Tzotzil sudah berlangsung cukup lama. Pada pertengahan tahun 1990-an, serombongan umat Muslim dari Spanyol berangkat menuju kawasan Amerika Latin untuk berdakwah. Mereka dipimpin oleh Aureliano Perez, atau dikenal juga sebagai Emir Nafia. Ia kini dianggap sebagai pimpinan spiritual oleh suku Maya.

Aureliano kemudian menawarkan kepada kaum Zapatista untuk berjuang bersama di bawah Komandan Marcos, sebagai sekutu ideologi-agama. Marcos enggan untuk menjalin pakta yang agak ‘aneh’ ini, akan tetapi, para pendakwah tadi menemukan hal lain; suku Tzotzil merangkup sebagian besar anggota Zapatista dan mereka ternyata cukup terbuka menerima dakwah-dakwah Islam.

Perebutan pengaruh spiritual di Chaipas bukanlah sesuatu yang baru. Pada abad ke-16, bangsa Spanyol memakai cara-cara kekerasan agar suku Indian memeluk Katolik. Pertengahan milenium ini, para pengkhotbah evangelis dari Amerika mengubah kawasan Amerika Latin sebagai ladang pencarian spiritual gereja. Di kota San Juan Chamula saja ada sebanyak 11 kelompok agama yang masing-masing mencari pengikut dari suku Indian.

Karena sudah ada sejak lama, maka Katolik masih menjadi yang terbesar hingga kini. Saat harus berhadapan dengan kian kuatnya kegiatan evangelis, mereka menjadi khawatir terhadap memudarnya pengaruh yang sudah mereka tanamkan.

Langkah pencegahan pun ditempuh. Sekitar 30 ribu Indian penganut Protestan kemudian diusir keluar dari kota San Juan Chamula dalam tiga dekade terakhir dan menjadi pengungsi. Kebanyakan mereka tinggal di luar kota San Cristobal. Terputus dari akar budaya dan agama, suku Indian ini kemudian berusaha mencari ketenangan jiwa.

“Dalam Islam, para Indian tadi menemukan nilai-nilai asli mereka,” kata Esteban Lopez, sekretaris jenderal komunitas Muslim Spanyol. “Kaum non-Muslim telah merusak budaya mereka.”

Dia menggambarkan penyebaran alkohol sebagai bukti. Minuman keras tersebut beredar luas di kalangan Indian Tzotzil. Namun larangan keras Islam terhadap minuman memabukkan sanggup mencegah suku Indian itu dari bahaya kecanduan miras dan lingkaran kemiskinan.

Kini di San Cristobal, suku India Maya-Muslim sudah dapat menjalankan aktivitas secara bebas. Ada yang membuka restoran piza dan menjadi tukang kayu. Banyak kalangan melihat mereka sebagai pekerja keras dan rendah hati.

Demikian juga kehidupan beragama dan pendidikan. Sebuah sekolah Alquran sudah dibuka. Di sana, para siswa belajar bahasa Arab dan shalat lima waktu, bertempat di ruang belakang gedung itu. Di sisi lain, jumlah penganut Muslim terus bertambah, dan ini antara lain dipicu oleh syiar Islam yang dilakukan dari sesama anggota keluarga.

Anastasio Gomes, misalnya, berhasil mengislamkan hampir seluruh anggota keluarganya. Dia begitu bahagia bisa mengislamkan kakeknya yang sudah berusia 100. “Dia sudah beralih dari satu agama ke agama lain selama hidupnya. Tapi sekarang, dia sudah menemukan kedamaian dalam naungan Allah SWT,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sejarah Pada Sebuah Buku

Agama Islam sampai ke Meksiko melalui perantara imigran asal Timur Tengah. Adalah sebuah buku karya Pascual Almazan berjudul Un hereje y Un Musulman yang mengisahkan seorang Muslim bernama Yusof bin Alabaz, menjadi petunjuk tentang kedatangan Islam pertama kali ke negara ini.

Berdasarkan buku tersebut, Yusof hidup pada abad ke-16. Dia tinggal di Andalusia namun selamat dari serbuan balasan kaum Nasrani di sana. Yusof lantas melarikan diri ke Maroko.

Akan tetapi, di tengah perjalanan, dia ditawan oleh perompak yang kemudian membawanya ke Meksiko. Karena takut dijadikan budak, dia pun berusaha melepaskan diri dan berhasil. Setelah itu, beberapa tahun kemudian Yusof tinggal di sebuah kawasan bernama Veracruz dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat.

Dari situlah, agama Islam berkembang ke seluruh wilayah negeri. Terlebih ketika kian banyak berdatangan para imigran dari Timur Tengah. Begitulah sejarahnya. Tidak ada bukti konkret yang menyebutkan bahwa Islam telah ada di negara tersebut sebelum datangnya imigran Arab.

Saat ini di negara tersebut memang banyak terdapat imigran Timur Tengah. Mereka berasal dari Lebanon, Maroko, Mesir, dan Suriah. Namun, tidak diketahui berapa jumlah pemeluk Islam di antara mereka. Barulah ketika dosen dari Georgetown University, Theresa Velcamp, mengadakan penelitian tahun 1999, diketahui sedikit banyak tentang mereka.

Menurut dia, imigran asal Suriah dan Lebanon merupakan komunitas imigran terbesar dengan estimasi 200 ribu jiwa. Selain itu, umat Muslim kebanyakan tinggal di kota-kota besar seperti Mexico City, Monterey, Guadalajara, Ciudad Obregon, dan Chiapas.

Sumber Majalah der Spiegel