Al Biruni

September 12, 2010 | | Leave a Comment

Al Biruni sering disebut sebagai salah satu ilmuwan terbaik sepanjang masanya. Ia ilmuwan yang menguasai banyak bidang ilmu, seperti fisika, antropologi, sosiologi, astronomi, astrologi, kimia, sejarah, geografi, matematika, pengobatan, psikologi, filosofi, mineralogi, dan teologi. Dia merupakan muslim pertama yang mempelajari India dan tradisi kaum Brahmana. Dia sering disebut sebagai bapak Indologi dan antropologi pertama. Dia pulalah yang pertama kali memperkenalkan metode investigasi eksperimental.

Al Biruni, nama lengkapnya Abu Rayhan Muhammad bin Ahmad Biruni, lahir pada 5 September 973 di Kath, Khwarizmi, yang waktu itu merupakan wilayah Dinasti Samanid. Ia lahir dari keluarga biasa dari suku Tajik.

Sedikit yang diketahui tentang masa kanak-kanaknya.

Yang pasti, sejak kecil Al-Biruni mempelajari matematika dan astronomi di bawah bimbingan Abu Nasr Mansur, ahli matematika muslim Persia.

Dua puluh lima tahun pertamanya dihabiskan dengan belajar di kampung halamannya.

Al-Biruni merupakan kolega dekat filsuf sekaligus Dokter Avicenna dan sejarawan sekaligus filsuf Ibnu Miskawayh. Al-Biruni pergi ke India bersama Mahmud Ghazan —sesuatu yang ditentang oleh Avicenna. Di negeri itu, ia mempelajari bahasa, agama, dan filosofi masyarakat India dan menulis buku Ta’rikh al-Hind (Kronik India).

Meski memeluk Islam, karya-karya Biruni tentang Hinduisme didasarkan pada pengamatan obyektif. Buku-bukunya tentang budaya dan masyarakat di anak benua itu menjadikan dia dikenal sebagai bapak antropologi. Biruni juga menulis ilmu perbandingan yang mendetail tentang antropologi, agama, serta budaya di Timur Tengah, Mediterania, dan Asia Selatan.

Dalam bukunya yang berjudul fi Tahqiq ma li’l-Hind atau Indica, dia tidak menulis tentang sejarah militer dan politik dengan detail, melainkan lebih banyak menulis tentang budaya, ilmu, sosial, dan sejarah Hindu.

Di bidang astronomi dia menulis Masudic Canon, tentang astrolabe, planisfer, dan tabel astronomi untuk Sultan Masud, putra dari Mahmud Ghazan. Buku itu memperkenalkan teknik matematika untuk menganalisis akselerasi pergerakan planet dan merupakan buku yang pertama kali mengemukakan bahwa pergerakan solar tidak identik. Biruni menemukan bahwa jarak bumi dan langit lebih panjang ketimbang perkiraan Ptolemy. Biruni juga dianggap sebagai bapak geodesi. Dia menemukan solusi pengukuran geodesi kompleks untuk mengukur bumi yang cukup dekat dengan pengukuran modern.

Karya Biruni terdiri atas 35 buku astronomi, 4 buku tentang astrolabe, 23 buku tentang astrologi, 5 buku tentang kronik, 2 buku tentang pengukuran, 9 buku tentang geografi, 10 buku tentang geodesi dan teori pemetaan, 15 buku tentang matematika, 2 buku mekanika, 2 buku pengobatan, 1 buku meteorologi, buku mineralogi dan permaya, 4 buku sejarah, 2 buku tentang India, 3 buku agama dan filsafat, 16 buku sastra dan 11 buku lainnya. Dari buku-buku ini, hanya 22 karyanya yang masih ada hingga saat ini, 6 di antaranya tentang astronomi.

Al Biruni meninggal dunia pada 13 Desember 1045 di Ghazni, Afghanistan. ● BERBAGAI SUMBER | AMANDRA MM

bukhara

September 12, 2010 | | Leave a Comment

Kota dengan banyak nama. Selain Bukhara, nama lainnya adalah Numijkat. Dalam bahasa Arab, kota ini juga disebut Madinat Sufriyaal, yang berarti kota tembaga. Namun nama yang terkenal adalah Bukhara, terletak di sebelah tengah Uzbekistan, Transoxania, yang mengingatkan pada seorang periwayat hadis, Imam Bukhari. Bukhara merupakan kota kelahiran Imam Bukhari dan juga tempat kelahiran Aveccina (Ibnu Sina), dokter dan ilmuwan muslim ternama pada masanya.

Sebelum Islam masuk ke wilayah tersebut, masyarakat Bukhara masih memeluk Saman, agama nenek moyang mereka dan agama Buddha. Arsitektur bangunan-bangunan kuno, dipengaruhi Persia dan Cina.

Tentara Islam di bawah pimpinan Said bin Usman memasuki wilayah Uzbekistan. Dalam penaklukan itu, Kota Biekand, yang terletak di antara Bukhara dan Sungai Jihun, dapat dikuasai dengan cara damai. Setelah memasuki Kota Samarkand, pasukan Islam memasuki Bukhara-kota yang terkenal di bidang perdagangan dan industri tenun yang diekspor ke Suriah, Mesir, dan Romawi.

Pada 709 M, Qutaibah bin Muslim Al Bahily berhasil menaklukkan Bukhara, yang membawa Islam berkembang di wilayah Rusia. Oleh Qutaibah, Bukhara dijadikan pusat kegiatan dakwah dan sebuah masjid dibangun di kota itu pada 713 M.

Islam terus berkembang, beberapa raja dan pemimpin masyarakat Uzbekistan memeluk Islam. Mereka pun bersedia menaati segala peraturan yang ditetapkan oleh pemerintahan Islam di pusat, yaitu Damaskus. Sejumlah nama yang berjasa dalam mengembangkan syiar Islam di sana, seperti Muslim bin Ziyad bin Abi Sofyan, Muhlab bin Abi Shafrah, Yazid bin Muhalab, dan Qutaibah bin Muslim Al Bahily.

Sejumlah peristiwa penting terjadi ketika Islam menguasai Bukhara dan kota-kota sekitarnya. Qutaibah mengadakan perjanjian dengan Tharkhund, penguasa Samarkand, agar Tharkhund bersedia membayar pajak sebagai bukti pengakuannya terhadap pemerintahan Islam di Damaskus.

Namun penduduk negeri itu marah kepada Tharkhund dan menurunkannya dari jabatan. Penggantinya, Ikhsysz Ghurik, bersedia menerima perjanjian itu setelah melalui pengepungan kota yang cukup lama. Sebagai imbalannya, Ikhsysz Ghurik diizinkan untuk tetap menempati jabatannya. Sejak itu, Bukhara dan Samarkand menjadi batu loncatan untuk meluaskan ekspansi di Transoxania.

Kota Bukhara, begitu juga Samarkand, terbagi menjadi tiga bagian kota, yaitu benteng, tempat terdapat istana, kantor-kantor pemerintahan, dan penjara. Bagian berikutnya kota sebagai pusat. Di sekitar kota digali parit yang dalam dan tanahnya dibuat tembok kota. Di tengah kota berdiri kantor-kantor pemerintahan dan masjid Jami. Bagian ketiga adalah perkampungan, yang terdapat pasar-pasar besar, pertokoan, dan gudang harta.

Bukhara mengalami pasang-surut. Pada masa Dinasti Samaniyah runtuh, Bukhara jatuh ke tangan Saljuk Sanjay pada 1102 M. Tetapi empat puluh tahun kemudian, kota ini direbut oleh Dinasti Khawarizmsyah yang menjadikan Bukhara sebagai pusat pemerintahannya.

Pada masa berikutnya, Bukhara dan Samarkand jatuh ke tangan Jengis Khan. Sebagian penduduknya dibunuh dan sebagian bangunan dihancurkan serta penduduk lainnya diperkenankan tinggal di kota-kota tersebut di bawah kekuasaan bangsa Mongol. Sejak saat itu, Bukhara tidak pernah bangkit lagi sebagai pusat peradaban dan perdagangan.

AlHambra

August 31, 2010 | | Leave a Comment

alam sejarahnya, setelah menguasai Afrika Utara, pada abad ke-13 Islam pernah menorehkan kejayaan di Semenanjung Andalusia atau Semenanjung Iberia di Eropa (Spanyol dan Portugal, termasuk selatan Prancis sekarang). Kekhalifahan Islam menjadikan daerah itu sebagai salah satu provinsi. Kekuasaan kekhalifahan Islam di sana mengalami pasang-surut dan berganti-ganti wali (gubernur).

Salah satu jejak kejayaan Islam di Andalusia adalah Alhambra, sebuah benteng yang dibangun pada masa akhir Bani Umayyah di Granada, pada abad ke-13.

Alhambra dalam bahasa Arab artinya merah, karena bahan bangunan terbuat dari tanah liat merah. Bangunan Alhambra pada mulanya bercat putih, tapi kini kemudian tampak kemerahan. Alhambra menempati puncak bukit Assabica di perbatasan tenggara Kota Granada (Spanyol sekarang).

Alhambra tidak memiliki sebuah rencana induk (master plan) bagi keseluruhan desain situs, sehingga tata letak secara keseluruhan tidak ortogonal. Sebagai hasil dari beberapa tahap pembangunan: dari benteng asli abad ke-9, istana Moor abad ke-13, istana pada masa Kaisar Charles V pada abad ke-16, beberapa bangunan berada di posisi aneh satu sama lain.

Awalnya bangunan ini dirancang sebagai kompleks militer, tapi kemudian Alhambra dijadikan kediaman dan istana kerajaan Islam di Granada pada pertengahan abad ke-13. Benteng ini kemudian mengalami perluasan dan penambahan menara pertahanan, yang secara keseluruhan dibagi menjadi dua bagian, yaitu area militer (Alcazaba) dan kota pengadilan, tempat Istana Nasrid yang merupakan kediaman raja-raja dan para bangsawan.

Pada 1492, Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella I dari Castile melakukan serangan ke Granada dengan pasukan besar. Penguasa muslim, waktu itu Abu Abdullah, menyerah tanpa perlawanan berarti dan menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella. Alhambra, yang merupakan benteng terakhir kekhalifahan Islam di Andalusia, selamat dari penghancuran.

Setelah penaklukan tersebut, penguasa Kristen mulai melakukan perubahan pada Alhambra, antara lain mengapur, mengecat, dan menyepuh, serta memindahkan perabotan. Mereka juga menggunakan beberapa bagian dari Alhambra. Pada 1533, Kaisar Charles V (1516-1556) membangun Istana Charles V di kompleks Alhambra. Charles V membangun kembali beberapa bagian dengan gaya Renaisans dan menghancurkan sebagian besar istana musim dingin untuk membuat ruangan dengan struktur gaya Renaisans namun tidak pernah selesai.

Pada abad-abad berikutnya, seni Moor rusak, dan pada 1812 beberapa menara dihancurkan oleh Prancis di bawah perintah Sebastiani. Gempa bumi pada 1821 menyebabkan kehancuran berikutnya. Pekerjaan pemugaran dilakukan pada 1828 oleh arsitek José Contreras. Sepeninggal Contreras, pemugaran dilanjutkan oleh anaknya, Rafael, serta cucunya. Dengan desain yang sangat cantik, Alhambra dilengkapi dengan taman-taman, air mancur, sungai, istana, dan sebuah masjid, yang semuanya berada di dalam tembok benteng dan diapit 13 menara besar.

Kompleks monumen Alhambra meliputi beberapa bagian, yakni Istana Charles V, Medina, Alcazaba, Rauda, Istana Nasrid, dan Generalife, yang meliputi wilayah sekitar 142 ribu meter persegi. Oleh UNESCO, Alhambra ditetapkan sebagai situs warisan dunia pada 1984. Kini Alhambra menjadi salah satu tujuan wisata utama Spanyol, yang memamerkan arsitektur Islam, bersama dengan arsitektur abad ke-16, dan terakhir bangunan peninggalan penguasa Kristen.

Syekh Yusuf

August 29, 2010 | | Leave a Comment

yekh Yusuf adalah ulama dari Makassar yang lahir pada 1626. Karena dianggap memusuhi Belanda, ia diasingkan di Ceylon (sekarang bernama Sri Lanka). Dari sana, ia kemudian diasingkan ke Cape Town, Afrika Selatan, hingga wafat pada 1699. Selama di kota itu, Yusuf disebut telah meletakkan dasar bagi keberadaan komunitas Islam di Afrika Selatan. Makamnya ada di empat tempat: di Gowa, Banten, Kaap (Sri Lanka), dan kawasan Faure, Desa Macassar, Cape Town.

Di Afrika Selatan, nama ulama tersebut amat dikenal. Bahkan Bapak Afrika Selatan Nelson Mandela menyebut Yusuf sebagai salah satu putra Afrika terbaik. Ia dianggap menjadi sumber inspirasi pejuang anti-apartheid. Pada 2005, dia dianugerahi penghargaan Oliver Thambo, yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki.

Dari Makassar, Ceylon, hingga Cape Town, Syekh Yusuf mengajarkan tarekat Khalwatiyah kepada murid-muridnya. Ia juga mengajarkan beberapa tarekat, seperti Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba’alawiyah, dan Qadiriyah. Di Jawa Barat pun Syekh Yusuf melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama sahabatnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Itulah sebabnya, Yusuf pun dikenal sebagai pejuang Indonesia dan ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional pada 1995.

Ada berbagai tulisan yang mencoba menceritakan kembali perjuangan Syekh Yusuf. Ulama besar Buya Hamka menyebutkan, ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah dan ibunya, Aminah. Namun Yusuf kemudian dibesarkan oleh Raja Gowa, yang sangat menyayanginya.

Pada usia 18 tahun, Yusuf mulai merantau menuju Mekah dengan menumpang kapal Melayu. Tempat pertama perantauannya adalah Banten, yang sudah sering didengar Yusuf dari pedagang-pedagang Melayu. Di Banten, Yusuf cepat beradaptasi dengan ulama, pejabat agama, dan ahli agama.

Setelah mengunjungi Banten, Yusuf pergi ke Aceh untuk mendalami agama Islam. Ia kembali ke Banten setelah dari Mekah. Yusuf semakin terkenal sebagai sufi yang memiliki kepribadian menarik. Tertarik akan hal itu, Sultan Banten menunjuknya untuk mengajar putra-putri Sultan mengenai Islam. Syekh Yusuf pun kemudian dinikahkan dengan salah satu putri Sultan.

Selama hidupnya, Yusuf telah menulis lebih dari 20 buku, terutama tentang tasawuf. Inti dari ajarannya pada dasarnya adalah ilmu tasawuf, yang berasal dari ilmu tauhid yang mengesakan kepercayaan kepada Allah. Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.

Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Menurut dia, kehidupan dunia ini tidak harus ditinggalkan dan hawa nafsu tidak harus dimatikan sama sekali.

Hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan.

Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun juga harus mengandung cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.

heracliusPerjanjian damai Hudaibiyah antara kaum Quraisy dan kaum muslim merupakan momen untuk meluaskan syiar Islam. Nabi mengutus kurir ke suku-suku nomaden dan kerajaan asing di sekitar Semenanjung Arab sebagai ajakan memeluk Islam. Dalam waktu singkat, suku-suku nomaden itu bersatu dalam bendera Islam.

Kerajaan Romawi Timur pun menjadi perluasan syiar. Nabi mengirim Dihya Al-Kalbi, yang membawa surat untuk Kaisar Romawi Heraclius, sebagai mengajak memeluk Islam. Surat itu Heraclius baru memenangkan pertarungan melawan bangsa Persia dan mencaplok Tanah Suci Yerusalem.

Ketika surat itu sampai, Kaisar mengundang anggota suku Quraisy ke ruangannya. Kebetulan saat itu Abu Sufyan bin Harb, tokoh suku Quraisy yang memusuhi Nabi, berada di Negeri Syam (Suriah). Ia dan beberapa Quraisy lainnya dibawa ke Yerusalem menghadap kaisar. Mengetahui bahwa antara Nabi dan Abu Sufyan ada hubungan darah, Kaisar mengajukan pertanyaan tentang Muhammad.

Hingga akhirnya, Heraclius berkata, “Saya bertanya tentang asal-usulnya, dan Anda berkata bahwa dia berasal dari keluarga terpandang. Dan semua utusan Tuhan selalu berasal dari keluarga terpandang di kelompoknya. Kemudian saya bertanya, apakah ada di antara kaummu yang pernah mengaku nabi, dan Anda berkata tak ada. Jika saja jawabannya ada, saya akan berpikir lelaki ini pasti hanya mengikuti klaim yang pernah dilakukan pendahulunya.

Kemudian saya bertanya, pernahkah dia berkata bohong di antara kamu, Anda berkata tak pernah. Jadi saya yakin seseorang yang tak pernah berbohong di antara kaumnya tak akan mungkin berbohong tentang Allah. Dan saya bertanya, apakah dia berasal dari garis keturunan raja-raja, jawaban Anda tidak.

Jika jawabannya iya, saya akan berpikir bahwa lelaki ini hanya ingin mengambil kembali apa yang menjadi milik pendahulunya. Kemudian saya bertanya, siapa yang mengikutinya, Anda berkata bahwa pengikutnya adalah kaum fakir dan miskin.

Faktanya, kaum miskin adalah pengikut para nabi.

Saya bertanya lagi, apakah pengikutnya bertambah atau berkurang, dan Anda berkata mereka terus bertambah. Faktanya, ajaran yang benar selalu membawa banyak pengikut. Saya bertanya lagi, adakah pengikutnya yang meninggalkan agamanya karena kecewa, Anda menjawab tak ada. Itu adalah tanda kebenaran dalam ajarannya, ketika mereka memeluknya dengan kesungguhan hati, tak ada yang akan kecewa.

Pernahkah ia mengingkari janjinya, Anda berkata tidak. Dan seperti itulah sifat para nabi, mereka tak pernah ingkar janji.

Pernahkah Anda berperang dengannya, Anda menjawab pernah dan kadang dia menang, kadang Anda menang. Seperti inilah para rasul, mereka akan terus diuji hingga akhirnya mendapat kemenangan sejati.

Kemudian saya bertanya, apa yang dia perintahkan dalam ajarannya. Anda menjawab dia memerintahkan pemeluknya untuk menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyembah tuhan yang lain. Untuk meninggalkan apa yang dahulu disembah oleh bapak-bapak Anda, untuk berdoa, mengatakan hal yang benar, untuk melakukan hal yang benar, menepati janji, dan mengembalikan apa yang menjadi hak orang lain. Ini adalah kualitas nabi yang saya tahu—dari Injil—akan muncul, yang saya tak tahu bahwa lelaki ini berasal dari kaum Anda.” Sejarawan abad ke-14, Ibnu Kathir, mengatakan, “Heraclius orang yang bijak di antara para raja pada masa itu.” Menurut Kathir, Heraclius menyadari Muhammad adalah nabi yang ditulis dalam Injil dan penutup para rasul. Sumber Arab lainnya menulis bahwa Heraclius mengajak rakyatnya untuk masuk Islam, tapi mereka menolaknya dan menganggap sang kaisar hanya mengetes kadar kesetiaan mereka pada Kristen. Heraclius yang mendapat penolakan dari rakyatnya, pada akhirnya memeluk Kristen hingga akhir hayatnya.
surah Taubat dan kesucian “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Ibnu Khaldun

August 23, 2010 | | Leave a Comment

Namanya mengharumkan lembar sejarah Islam. Ia adalah ilmuwan Islam yang terkenal pada masa itu dan hingga sekarang masih kerap dikenang. Ia juga dikenal sebagai sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Dialah Ibnu Khaldun, dengan nama lengkap Abdurrahman Zaid Waliuddin bin Khaldun.

Ia lahir pada 2 Ramadan 732 H atau 27 Mei 1332.

Ayahnya dikenal sebagai ahli dalam bidang ilmu fikih. Berasal dari keluarga kelas atas, Abdurrahman—nama kecil Ibnu Khaldun—berkesempatan mengenyam pendidikan dari guru-guru terbaik di Afrika Utara waktu itu. Dia menerima pendidikan Islam klasik, mempelajari Al-Quran, linguistik Arab, dasar-dasar memahami Al-Quran, hadis, syariah, dan fikih. Ahli matematika dan filsuf, Al-Abili, memperkenalkannya pada matematika, logika, dan filsafat.

Pada usia 17 tahun, Khaldun kehilangan kedua orangnya.

Pada 1354, ia pergi ke Maroko untuk menyelesaikan pendidikan tinggi.

Mengikuti tradisi keluarga, Khaldun berjuang untuk karier politik. Pada usia 20 tahun, ia memulai karier politiknya di Kesultanan Maroko, dengan jabatan Katib al-Alamah (sekretaris), antara lain bertugas menulis dengan kaligrafi halus catatan pengantar dokumen resmi. Namun posisi ini tidak lama dijabat. Karena terlibat dalam persekongkolan pada 1357 untuk menggulingkan sultan, ia ditangkap dan dipenjarakan. Tidak lama kemudian, dia dibebaskan. Setelah sultan meninggal dan kekuasaan direbut Al-Mansur, Khaldun diangkat menjadi sekretarisnya. Di dunia politik, ia sempat menjadi Kepala Mahkamah Agung sewaktu Abu Salim berkuasa. Lantaran terjadi pemberontakan di kalangan istana, Khaldun meninggalkan jabatannya dan putar haluan kembali ke dunia ilmu pengetahuan.

Bersama keluarganya, ia kemudian pindah ke daerah Banu Arif, hidup tenang jauh dari hiruk-pikuk politik. Mulai saat itu, Khaldun menyusun karya besarnya, Muqodimah Ibnu Khaldun. Selama empat tahun tinggal di daerah Banu Arif, ia juga menyusun sejarah Al-’Ibar. Karena kekurangan referensi, ia pergi ke Tunisia untuk menyelesaikan karyanya.

Kemudian Khaldun pindah ke Mesir dan dipercaya menempati jabatan hakim tinggi dan sebagai guru besar di perguruan Al-Azhar. Setelah sekian lama menekuni ilmu dan mengabdi kepada Afrika Utara dan Andalusia, ilmuwan besar itu meninggal pada 25 Ramadan 808 H atau 17 Maret 1406 M.

Karyanya yang monumental dan diakui oleh ilmuwan Barat adalah kitab Muqodimah (Pendahuluan). Kitab ini membahas ilmu sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, dan sejarah filsafat, yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, serta menjadi buku induk dalam kajian ilmu kemasyarakatan.

Di bidang ekonomi, teori-teorinya kerap disebut-sebut jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Artinya, ia lebih dari tiga abad mendahului para pemikir Barat modern tersebut.

Menurut Muhammad Hilmi Murad, dalam bukunya berjudul Abul Iqtishad: Ibnu Khaldun (1962), Khaldun terbukti secara ilmiah sebagai penggagas pertama ilmu ekonomi secara empiris. Ibnu mengkaji problem ekonomi masyarakat dan negara secara empiris—berbeda dengan kajian ekonomi Barat yang, sebelum Khaldun, bersifat normatif, kadang dikaji dari perspektif hukum, moral, dan filsafat. Sedangkan Khaldun menjelaskan fenomena ekonomi secara aktual.

Al Aqsa

August 23, 2010 | | Leave a Comment

Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu tempat suci bagi umat Islam yang bersejarah dan melewati dinami ka panjang. Dari masjid inilah Nabi Muhammad diangkat ke Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Menurut sejumlah hadits, masjid ini sempat menjadi kiblat salat selama 17 bulan, sebelum akhirnya kiblat salat menjadi Ka’bah di Mekah.

Tidak diketahui secara tepat kapan Masjid Al-Aqsa pertama kali dibangun. Namun, yang pasti, masjid yang terletak di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur) itu pada awalnya adalah rumah ibadah kecil yang didirikan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Masjid itu kemudian diperbaiki dan dibangun kembali oleh Khalifah Umayyah Abdul Malik di Palestina dan diselesaikan oleh putranya, Al-Walid, pada 705 Masehi.

Gempa bumi pada 746 mengakibatkan masjid ini hancur seluruhnya. Oleh Khalifah Abbasiyah al-Mansur, masjid itu dibangun kembali pada 754. Penggantinya, Al-Mahdi, mengembangkannya pada 780.

Gempa kembali mengguncang Yerusalem pada 1033 dan sebagian besar bangunan Al-Aqsa hancur. Dua tahun kemudian Khalifah Fatimiyyah Ali azh-Zhahir membangun kembali masjid ini, yang masih tetap berdiri hingga kini.

Beberapa dinasti kekhalifahan Islam melakukan sejumlah renovasi dan penambahan berkala, antara lain pada bagian kubah, mimbar, menara, dan interior bangunan.

Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada 1099, mereka menggunakan masjid ini sebagai istana dan gereja serta kandang kuda. Pada 1119, tempat ini berubah menjadi markas para Ksatria Templar. Para ksatria itu membangun paviliun berkubah di sisi barat dan timur bangunan. Selain itu, selama periode ini, masjid mengalami beberapa perubahan, antara lain perluasan serambi utara serta penambahan apse dan sebuah dinding pembatas. Bahkan di area itu dibangun sebuah kloster baru dan sebuah gereja.

Shalahuddin al-Ayyubi berhasil memimpin Ayyubiyah dan merebut kembali Yerusalem melalui pengepungan pada 1187. Fungsi masjid itu pun dikembalikan seperti semula dan dilakukan perbaikan. Pada November tahun itu, sebuah mimbar baru yang terbuat dari gading dan kayu–yang pembuatannya dilakukan oleh sultan sebelum Shalahuddin, yaitu Sultan Nuruddin Zengi–ditambahkan ke masjid.

Para penguasa pada abad-abad berikutnya melakukan renovasi, perbaikan, dan penambahan. Penguasa Ayyubiyah di Damaskus, Sultan Al-Muazzam, pada 1218 membangun serambi utara masjid dengan tiga buah gerbang. Pada 1345, penguasa Mamluk di bawah pemerintahan Al-Kamil Shaban menambahkan dua lengkungan dan dua gerbang pada bagian timur masjid.

Setelah Utsmaniyah merebut kekuasaan pada 1517, mereka tidak melakukan renovasi atau perbaikan besar atas masjid itu. Namun mereka melakukan perbaikan pada area kompleks di sekitar masjid, yang disebut Al-Haram Asy-Syarif (Bukit Bait Suci) secara keseluruhan, termasuk Air Mancur Qasim Pasha, perbaikan kembali Kolam Raranj, serta pembangunan tiga kubah yang berdiri bebas.

Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada 21 Agustus 1969, yang mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam, menyebabkan mimbar kuno Shalahuddin al-Ayyubi terbakar habis.
Dinasti Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania, telah menggantinya dengan mimbar baru yang dikerjakan di Yordania.

Bangunan Masjid Al-Aqsa berbentuk persegi dan luasnya beserta area di sekitarnya adalah 144 ribu meter persegi, yang mampu menampung 400 ribu anggota jemaah. Panjang bangunan masjid 83 meter dan lebarnya 56 meter, serta dapat menampung sampai 5.000 anggota jemaah.

Kisah Imam Bukhari

August 23, 2010 |  Tagged , | Leave a Comment

Di antara sejumlah nama pengumpul hadis Nabi Muhammad, Muhammad bin Ismail al-Bukhari dan Muslim bin Al-Hajjaj termasuk yang terkenal.
Mereka mendedikasikan hidupnya untuk mengumpulkan hadis Nabi Muhammad, yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi dan generasi setelah para sahabat. Dengan kumpulan hadis yang mereka dokumentasikan, umat Islam bisa mengetahui, memahami, serta mengamalkan perkataan dan perbuatan Nabi.

Hadis, yang merupakan pedoman hidup bagi umat Islam kedua setelah Al-Quran, dikumpulkan dan dibukukan pada abad kedelapan, kira-kira dua abad setelah Rasulullah tiada. Adapun Al-Quran dibukukan setahun setelah Nabi meninggal, pada masa Khalifah Umar bin Khatab.

Kesahihan atau keotentikan hadis menjadi pertimbangan dipakai atau tidaknya hadis tersebut dalam hukum dan sejarah Islam, mengingat banyak pula hadis da’if (lemah) yang beredar. Imam Bukhari dan Imam Muslim mempelajari semua hadis yang pernah mereka dengar, mengukur keotentikan hadis tersebut, sebelum menyusunnya dalam buku yang menjadi pegangan umat Islam hingga saat ini. Hadis yang dikumpulkan Imam Bukhari dan Imam Muslim merupakan kumpulan hadis sahih yang paling otentik dalam dunia Islam.

Imam Al-Bukhari lahir pada 810 M di Bukhara, Uzbekistan. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim, dikenal sebagai pengumpul hadis ternama dari suku Tajikistan, yang meninggal pada usia muda. Menurut sejarawan Al-Dhahabi, sejak kecil, Al-Bukhari–yang dibesarkan oleh ibunya-sudah hafal Al-Quran.

Pada usia 11 tahun, ia mulai mempelajari hadis Nabi. Al-Bukhari menjalankan ibadah haji bersama saudara laki-laki dan ibunya ketika beranjak 16 tahun. Di tahun itu pula ia mulai menulis buku dan meriwayatkan hadis. Dua tahun kemudian, Al-Bukhari mulai menulis hadis Nabi dari para sahabat, tabiun, dan perkataan mereka.

Setelah menjalankan ibadah haji, Al-Bukhari melakukan serangkaian perjalanan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang hadis. Hampir semua pusat belajar Islam pada zaman itu ia kunjungi. Al-Bukhari mempelajari 700 ribu hadis, baik yang otentik maupun yang tidak.

Enam belas tahun kemudian, Al-Bukhari kembali ke Bukhara dan menyelesaikan Al-Jami’ Al-Sahih, kumpulan 7.275 hadis yang disusun dalam beberapa bab. Kumpulan hadisnya dianggap paling otentik oleh muslim Sunni.
Al-Bukhari juga menulis buku lain, termasuk Al-Adab AlMufrad–yang berisi kumpulan hadis dari perbuatan Nabi-dan dua buku lain yang berisi biografi para perawi hadis.

Pada 864 M, Al-Bukhari tinggal di Neyshapur, Iran. Di kota ini, ia bertemu dengan Imam Muslim bin Al-Hajaj, yang menjadi muridnya. Imam Muslim, yang lebih muda 12 tahun dari Imam Bukhari, telah menjelajahi semenanjung Arab, Mesir, Irak, hingga Suriah, sebelum akhirnya tinggal di kota kelahirannya, Neyshapur, untuk menulis buku.

Hadis yang dikumpulkan Imam Muslim tak kurang dari 3.033, dan diakui oleh muslim Sunni sebagai hadis sahih. Hadis kumpulan Imam Muslim memiliki 1.900 hadis yang sama dengan Imam Bukhari.

Abdur Rahman III

August 20, 2010 | | Leave a Comment

epiawaiannya dalam berpolitik membuat wilayah kekuasaan Abdur Rahman III semakin besar. Di bawah pemerintahannya, Spanyol Selatan berkembang pesat. Kordoba, yang berpenduduk hampir 1 juta jiwa, adalah salah satu kota terbesar di dunia saat itu. Pada masa pemerintahannya, kaum muslim di Andalusia mencapai masa keemasannya.

Abdur Rahman III lahir di Kordoba pada 891 M. Dia adalah cucu Abdullah bin Muhammad, emir Andalusia yang memiliki garis keturunan dari Dinasti Umayyah ketujuh, dan putra Muhammad dari salah satu selir. Pada usia ke-21, Abdur Rahman diangkat menjadi Emir Kordoba menggantikan kakeknya.

Sejak Abdur Rahman kecil, sang kakek memang telah melihat potensinya. Sehingga ketika sakit keras, Abdullah memberi wasiat agar kelak Abdur Rahman menggantikan dia, bukan empat anaknya yang waktu itu masih hidup.

Ketika naik takhta, Kordoba memiliki ancaman di empat penjuru mata angin. Di Utara, Kerajaan Kristen Asturias meneruskan program reqonquista. Di Selatan, Dinasti Fatimiyah menunjukkan keinginannya untuk menginvasi Andalusia. Di lingkup internal, keluarga Muladi, muslim lokal, menunggu waktu untuk melakukan kudeta. Itu belum termasuk pemberontakan yang dilakukan Umar bin Hafsun di timur Andalusia.

Abdur Rahman menunjukkan pemecahan yang taktis. Ia melakukan sentralisasi pemerintahan langsung di bawahnya. Dia juga membentuk badan yudikatif yang terdiri atas saqalibah (budak asal Eropa Timur) untuk mengakhiri perseteruan antara suku Arab dan Berber.

Dua puluh tahun pertamanya, Abdur Rahman menghindari konfrontasi dengan kerajaan Kristen di Utara. Keluarga Muladi dan kelompok pemberontak Umar bin Hafsun, yang bekerja sama, menjadi fokus awalnya. Ia meredakan pemberontakan Umar bin Hafsun dan menghukum keluarga Muladi dengan kewajiban menyerahkan pajak dalam jumlah besar.

Wilayah Sevilla, Valencia, hingga Meilia, Ceuta, dan Tangier di kawasan Maghribi (Afrika Utara) jatuh dalam kekuasaannya, baik melalui perang maupun perdamaian. Pada 929, Abdur Rahman memiliki kekuatan politik yang kuat dan memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah Kordoba.

Setelah bertahun-tahun berseteru dengan Raja Ordoño II dari Kerajaan Leon, Abdur Rahman mengambil pendekatan yang kreatif untuk menyelesaikan perseteruan itu. Sancho, ahli waris takhta Kerajaan Leon, ditolak rakyatnya menjadi raja karena menderita obesitas. Alih-alih menjadi raja, ia justru digantikan oleh sepupunya, Ordoño IV. Abdur Rahman membujuk nenek Sanchi, Ratu Toda dari Navarre, agar Sancho dirawat di Kordoba.

Di Kordoba, sang emir meminta Hasdai bin Shaprut, seorang Yahudi yang menjadi penasihat tak resminya, menurunkan berat badan ahli waris kerajaan Kristen itu. Beberapa bulan kemudian, berat badan Sancho turun drastis ke angka normal. Sancho menggabungkan pasukannya dengan pasukan Abdur Rahman untuk menaklukkan Leon.

Di bawah pemerintahan Abdur Rahman, Kordoba berkembang pesat. Sang emir juga menaruh perhatian pada seni arsitektur. Ia memperluas Masjid Kordoba dengan deretan pilar.

Hingga kini deretan pilar itu masih lestari. Tak ada dua pilar yang serupa. Beberapa di antaranya diambil dari reruntuhan Roma dan Goth untuk menopang lengkungan ganda merah-putih yang terkenal itu.

Abdur Rahman juga membangun perpustakaan Kordoba, yang menampung koleksi yang tak kalah dibanding Baitul Hikmah di Baghdad. Kelak ketika penguasa Katolik di Utara menaklukkan kota ini, buku-buku di perpustakaan tersebut dipelajari dan menjadi dasar pengetahuan Eropa modern.

Sebelum turun takhta dan digantikan oleh putranya, Al-Hakam II, Abdur Rahman menulis, “Aku telah memerintah selama hampir lima puluh tahun dalam kemenangan dan kedamaian, dicintai rakyatku, ditakuti musuhku, dan disegani oleh sekutuku. Dan selama itu, aku telah menghitung hari-hariku yang sungguh-sungguh membahagiakan…. Jumlahnya hanya empat belas…. Karena itu, janganlah kamu menaruh harapan pada hal-hal yang bersifat duniawi.”

Baitul Hikmah

August 20, 2010 | | Leave a Comment

ada masa keemasannya, Bagdad adalah ibu kota Dinasti Abbasiyah dan pusat dunia Islam.

Seniman, teknokrat, ilmuwan, pujangga, filsuf, dan saudagar yang hidup pada masa itu berkontribusi terhadap perkembangan di bidangnya masing-masing, yakni seni, industri, hukum, literatur, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, dan teknik, baik yang dikumpulkan dari masa sebelum itu maupun yang dikembangkan setelahnya.

Contohnya, ketika rahasia membuat kertas terkuak dari dua tawanan Cina yang menderita kekalahan di Perang Talas pada 751, bangsa Arab mulai memproduksi kertas besar-besaran. Buku sains yang penting dari zaman Persia, India, dan Yunani Kuno pun ditulis ulang dan dialihbahasakan ke bahasa Arab. Kemudian buku-buku itu disimpan di perpustakaan besar bernama Baitul Hikmah.

Terletak di jantung Kota Bagdad, Baitul Hikmah dibangun oleh Khalifah Harun al-Rasyid pada 813 M.

Penerusnya, Al-Ma’mun, mengundang para ilmuwan di seluruh dunia Islam untuk berbagi ide, informasi, dan pengetahuan di perpustakaan ini. Al-Kindi (pencetus kriptograf) dan Al-Khwarizmi (Bapak Matematika) adalah dua dari banyak saintis muslim yang belajar di Baitul Hikmah. Buku dan dokumen berharga dari ilmu pengobatan hingga astronomi tersimpan rapi berdasarkan rak dan katalog di perpustakaan ini.

Howard R. Turner dalam bukunya, Science in Medieval Islam (1997), menulis, “Seniman, ilmuwan, pangeran, dan pustakawan muslim bekerja sama dalam membangun peradaban unik yang mempengaruhi dunia Barat secara langsung maupun tak langsung bertahun-tahun setelahnya.” Baitul Hikmah menjadi pusat pembelajaran, transfer pengetahuan dilakukan langsung dari guru ke murid tanpa institusi khusus. Tak lama kemudian, madrasah mulai tumbuh di kota ini. Wazir Dinasti Abbasiyah, Nizam Al-Mulk, mendirikan Al-Nizamiyya of Baghdad, yang merupakan universitas pertama dan terbesar di abad pertengahan.

Baitul Hikmah hancur lebur ketika Bagdad jatuh ke tangan bangsa Mongol pada 1258. Kala itu, Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, menyerang Bagdad. Kota ini jatuh setelah dikepung dan dihujani panah api.

Baitul Hikmah diratakan dengan tanah. Konon, warna air Sungai Tigris yang melalui Bagdad, berubah menjadi merah dan hitam. Merah dari darah para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh, sedangkan hitam dari tinta buku-buku berharga koleksi Baitul Hikmah yang luntur setelah dibuang ke sungai itu.

Jumlah korban saat itu sekitar 90–200 ribu orang.

Beberapa sejarawan malah ada yang memperkirakan hingga 1 juta orang. Khalifah Al-Musta’sim ditangkap dan dipaksa melihat penduduknya dibunuh satu per satu. Beberapa catatan menulis, khalifah akhirnya dibunuh dengan cara digulung dengan permadani untuk dilindas oleh gerombolan kuda. Kejatuhan Bagdad mengakhiri masa keemasan Islam dan memberikan pukulan psikologis bagi dunia Islam. Hingga beberapa abad setelahnya, Bagdad tak kunjung pulih.

Meski Hulagu menghancurkan dunia Islam, putranya, Ahmad Tekuder, dan cucunya, Mahmud Ghazan, justru memeluk Islam dan membangun Dinasti Ilkhanid, yang kekuasaannya terbentang dari Khurasan hingga ke Semenanjung Balka